“Waspada” is your early warning !

4

indo_plates USGSRata-rata jarak antara garis pantai selatan Sumatra – Jawa dengan patahan-patahan naik (subduction zone) sekitar 200 Km. Kecepatan gelombang tsunami 800 Km/jam.
Kalau terjadi patahan vertikal dengan displacement yg cukup utk menggerakkan tubuh air, maka gelombang tsunami yg terbentuk hanya memerlukan waktu 15-20 menit untuk sampai di pinggir pantai.

Rasakan Getaran dan Dengarkan Suara JLEGURR … !

Mengapa ada swara ‘jlegurr‘? Ada dua kemungkinan tentang suara ini.

Yang pertama seperti saya jelaskan dengan fenomena Glung-Bleg di Jogja kemarin itu, yaitu adanya getaran frekuensi tinggi.  High-frek P-wave apabila sangat dangkal akan menghasilkan suara yg bisa kita dengar lansung (kalo dilaut disebut juga T-wave (acoustic wave)). Sesudah high-frek P-wave yg amplitude-nya sangat kecil, baru low-frek P-nya datang dan terasa goyangan. Dan sesudah itu baru S-wave yg lebih bergetar.

Suara “jlegurr” ini juga barangkali swara air yg ‘bertepuk‘, seperti waktu kita kecil dulu kalau di kolam renang seneng sekali membuat suara dengan menekan air kebawah sehingga berbunyi “plung-plak-plung ..” Tentunya swara yg kuhasilkan hanya terdengar dekat wong tanganku kecil 🙁 … Nah kalau ukurannya besar, dengan dislokasi patahan vertikal 5 meter panjang berpuluh kilometer tentunya swaranya membahana … “JLEGURRR !!!” Swara-swara Ini salah satu “Early Warning” tambahan yg sudah diberikan oleh alam 15 menit sebelum tsunami datang khususnya di pantai selatan Sumatra – Jawa.

Dengan demikian “ETsunamiarly warning” yg bisa dipakai selain getaran yg dirasakan di pinggir pantai, suara jeglung dan surutnya air laut. Surutnya air laut ini ini mungkin tidak secepat rasa getaran, maupun suara “jlegurr“. Dengan demikian hanya getaran karena goyangan gempa dan diikuti suara “jlegurr”lah yg paling mungkin menjadi “early warning” pertanda “kemungkinan” akan adanya tsunami.

Memasang seismometer di pinggir pantai ini mungkin merupakan cara terampuh. Dengan menggunakan “cut-off” gempa minimal 7 Mw sebagai pembunyi alarm mungkin akan sangat berguna. Alarm ini dapat diteruskan penyebarannya dengan metode tradisional penyebaran info lewat kentongan, teriakan masjid, klenteng gereja, dengan nada serta irama khusus mungkin akan bermanfaat. Hanya saja getaran-getaran yg bersumber didarat juga kan memberikan alarm yang sama, yng mungkin terkesan “mengecoh”. Namun kalau dilihat secara positip, pengecohan ini bisa dianggap sebagai “tsunamic drill” atau latihan tak terduga.

Aku rasa diperlukan ide-ide lain untuk lebih memberikan arti kepada Indonesia. Pemasangan “Bouyancy” seperti yang pernah saya tulis disini, sebagai pengukur gelombang tsunami, seperti yg dipasang di Samodra pacific dan atlantic, mungkin tidak cukup untuk warga pantai selatan Jawa Sumatra. Bouyancy yg dipasang diu Indian Ocean tentunya sangat berguna bila ada tsunami besar seperti yg terjadi di Aceh tahun 2004. Early warning yang ini sangat diperlukan oleh pesisir di sekeliling Indian Ocean.

Nah dengan sedikitnya waktu yg tersedia buat penduduk pesisir selatan Jawa-Sumatra untuk bersiap-siap menghindari tsunami akibat gempa, maka yang paling tepat adalah semboyan “WASPADA” IS YOUR EARLY WARNING.

4 COMMENTS

  1. […] Akhir kata, untuk saat ini marilah kita percaya bahwa Gempa bisa terjadi kapan saja dan belum ada teori ramalan apapun yang terbukti akurasinya. Oleh karenanya, jurus yg paling ampuh saat ini adalah Waspada. Kita tidak perlu harus bisa meramal kapan gempa akan mendatangi. Namun kita harus siap dan tahu apa yang harus dilakukan jika suatu saat memang gempaitu terjadi. Dan ini jauh lebih berguna daripada mempercayai ramalan-ramalan yang tidak akurat kebenarannya. […]

  2. Quake alarm ini memanfaatkan jeda kedatangan gelombang P wave dan S wave.
    Kira-kira begini :
    Kecepatan P Wave = 8 km/detik
    Kecepatan S Wave = 4 km/detik
    Selisih kecepatannya 4 Km/detik. Nah dalam jarak 200 Km maka beda waktu kedatangannya adalah 50 detik.

    P wave akan datang duluan sedangkan S Wafe datang belakangan. Namun beda kecepatan tersebut memilki selisih hanya 60 detik aku rasa kurang berarti utk jarak yang hanya 200 Km dari pusat gempa.

    Bila jaraknya sangat jauh memang selisihnya semakin besar, namun apa lagi yg ditakutkan ? wong intensitas getarannya (dalam MMI) kalau sudah sangat jauh juga sudah tidak berbahaya lagi.

    Namun kalau memang hanya sebagai pengganti seismometer yang mahal boleh lah yaw.

  3. Pak Rovicky,

    Sekarang khan sudah ada Quake Alarm http://www.quakealarm.com Harganya juga cukup terjangkau. Quake Alarm bisa digunakan, alat ini disebarluaskan / disosialisasikan dibeberapa desa /kelurahan yang rawan gempa, kemudian alat ini dihubungkan untuk
    menggerakkan sinyal/suara/alarm yang dapat diketahui masyarakat dalam radius tertentu.
    Kemudian sambung menyambung menggunakan sarana
    komunikasi yang ada seperti kentongan dll.

    Namun Quake Alarm tdak bisa mendeteksi tsunami.

Leave a Reply