Aurora pertunjukkan angkasa

61

Aurora (sumber Nasa)Pada waktu gempa sering diamati adanya pancaran cahaya di langit yg menyertainya. Pancaran ini diduga akibat pancaran atau perubahan perilaku Elektro Magnetik Bumi karena getara. Pancaran yg sangat jelas terlihat adalah disebut Aurora.

Aurora Bukan Api !
Dentuman itu bukan ledakan !

Aurora adalah fenomena pancaran cahaya yang berpendar seolah “menyala-nyala” pada lapisan ionosfer dari sebuah planet sebagai akibat adanya interaksi antara medan magnetik yang dimiliki planet tersebut dengan partikel bermuatan yang dipancarkan oleh matahari (“angin matahari” tapi bukan angin yg berhembus loh ya 🙂 ). (ensiklopedia wiki)

Di bumi, aurora terjadi di daerah di sekitar kutub Utara dan kutub Selatan magnetiknya. Aurora yang terjadi di daerah sebelah Selatan dikenal dengan Aurora Australis, sementara yang di sebelah Utara dikenal dengan nama Aurora Borealis. Aurora sering terlihat di kutub tetapi tidak/jarang terlihat di katulistiwa. Sehingga kita tiodak banyak mengenak “pertunjukan” angkasa ini.
Ketika terjadi gempa banyak yang juga mengukur adanya perubahan elektromagnetik bumi. Perubahan ini yg membentuk atau menimbulkan perubahan sifat eletromagnetik sesaat. Nah, yang terlihat ketika terjadi tsunami yang disebabkan oleh sebuah gempa yang sangat kuat ini, mungkin sekali diikuti dengan munculnya aurora. Kita yg berada di khatulistiwa tentunya jarang sekali melihat “pertunjukkan” aurora ini. Karena jarang terjadi perubahan perilaku eletromagnetic di daerah khatulistiwa. Sehingga inilah yang menjadikan pikiran kita melayang-layang dengan segala macam asumsi dan spekulasi.

Aurora Bukan Api !
Dentuman itu bukan ledakan !

Mengapa ada swara ‘jlegurr‘?

Yang pertama seperti saya jelaskan dengan fenomena Glung-Bleg di Jogja kemarin itu, yaitu adanya getaran frekuensi tinggi. High-frek P-wave apabila sangat dangkal akan menghasilkan suara yg bisa kita dengar lansung (kalo dilaut disebut juga T-wave (acoustic wave)). Sesudah high-frek P-wave yg amplitude-nya sangat kecil, baru low-frek P-nya datang dan terasa goyangan. Dan sesudah itu baru S-wave yg lebih bergetar.

Selain itu suara “jlegurr” ini barangkali swara air yg ‘bertepuk‘, seperti waktu kita kecil dulu kalau di kolam renang seneng sekali membuat suara dengan menekan air kebawah sehingga berbunyi “plung-plak-plung ..” Tentunya swara yg kuhasilkan hanya terdengar dekat wong tanganku kecil ( … Nah kalau ukurannya besar, dengan dislokasi patahan vertikal 5 meter panjang berpuluh kilometer tentunya swaranya membahana … “JLEGURRR !!!”. Kalau jarak sumber gempa dekat dengan telinga kita maka akan terdengar suara yg aku jelaskan tentang swara yg terdengar Glung dan Bleg disini sebelumnya. Mekanisme glun- bleg ini berbeda dengan jlegurrnya suara “tepukan air”.

Jadi cahaya berkilau yang terlihat ketika gempa itu bukanlah bola api. Sedangkan dentuman yg terdengar juga bukanlah sebuah ledakan dari dalam bumi, atau bahkan banyak yg menduga sebagai percobaan nuklir dsb. Itu jelas kurang mathuk buat yg berifikir gejala-gejala fisika bumi.

Kenampakan awan juga bisa terpengaruh oleh pendaran cahaya. Coba tengok efek pencahayaan yg merubah warna Wedhus Gembel ini. Awan sendiri berbentuk bermacam-macam jenisnya, termasuk awan lurus yg “dicurigai” pertanda gempa. Namun menurut saya keberadaan awan ini lebih banyak dikontrol oleh gejala meteorologi, termasuk angin, kelembaban, suhu dan angin. Dan kenampakan mata akan sangat dipengaruhi oleh cahaya yg mengenainya.
Berikut ini aku kumpulkan bermacam-macam aurora dan foto Awan dan Aurora yang tidak berhubungan dengan gempa.
.sumber NASA aurora.jpg` a_lights01_10_29_03.jpgaurora-dfritts.jpg

blown300_1.jpg fibers13.jpg fibers301.jpg fibers320.jpg

Sumber gambar dari Tante Wiki

61 COMMENTS

  1. koncichiwa ^^

    pak saya maw tau lebih lanjut tentang spreading center,coz buat tugaz di kul saya,tolong yaw pak,kalo bloeh namabah,source rock ma caprock jga,yg detail yow pak,msh bingung soalnza >.<

    arigatou gozaimaz ^^

  2. jujur Aq,klw bicara ttg AURORA yg teringat tuh psti kejadian alam yg sgt spektakuler………dAN AQ ingin tau lebih byk about that.so a rasa infor diatas cukup menarik,walaupn aq ngk kenal dgn penulis nya……………

  3. semwaNa bagussssss bangetttttttt,dari critaNa.gambarNa,ohhhh yaw,,,,,perbanyak gambar nya donx plizzzzzzzzzz

  4. wah…..menarik sekali tulisan bapak…
    jujur saya sangat tertarik masalah geologi…..
    jika memungkinkan…..saya ingin bapak menjelaskan tentang kemungkinan adanya kehidupan di planet lain…(maaf..klo sudah jauh dari isi/tema blog bapak)

  5. gambar-gambarnya sangat bagus sekali perbanyak donk ! agar koleksiku semaki banyak tentang aurero dan tolong kirim ke E-mailku please…..!

  6. terimakasih pak… penjelasan yang gamblang banget pak.. tapi saya mau tanya kenapa ya matahari itu kalo terbit or tenggelam kelihatanya besar tapi sinarnya gak panas tapi kalo sian kelihatan kecil tapi sinarnya kok panas banget?? kenapa ya?? ada yang bisa jawab????

  7. apaka kernapa kita tak bisa sekolah jawab karena biaya pendidikan sangat mahal n guru di sekolah hanya mementingkan di9ri sendiri

  8. pak apa benar kmungkinan pulau jawa akan terbelah menjadi dua???
    kalau dilihat dari segi “ilmu pengetahuan” apkah mungkin pak?

  9. Arah pergerakan lempeng memang bisa saja berubah, namun perlu diketahui pergerakannya juga sangat lambat 7 cm/tahun. Dan ini terjadinya tidak semena-mena dalam waktu dekat. Pengamatan ini hanya bisa dilakukan dalam jangka puluhan tahun atau ribuan tahun.
    GPS (Global Positioning System) saat ini sudah dapat memperlihatkan tingkat kedetilan hingga mm. Namun penggunaan GPS sendiri juga baru dalam dua dekade sebelum ini. Teknologi GPS adalah teknologi maju yg baru saja berkembang dan baru saja dimanfaatkan dalam global tectonic. Artinya kita belum memiliki data-data historis GPS cukup banyak. Sehingga , menurut sependek pengetahuan saya, pendeteksian dengan GPS belum bisa dipakai sebagai dalam melihat ada tidaknya pembelokan ini.
    Yang saya katakan adanya pembelokan arah gerakan plate ini diketahui dari data-data geologi yg merupakan rekaman gerakan plate dalam jutaan tahun.

  10. Mr Rovicky, di t4 saya it ad kabar2 akan adanya pembenahan arah lmpg sprt pd gmp yg prtama itu. apa bnr??? knp it bs terjadi satau sy lmpengan bumi sll bergeser namun sy tdk th kl stl gempa it akn ad pmblkn arh lempeng
    Yg jls kt hrs ttp wspd dan byk brdoa
    thx,..

  11. Ledakan nuklir saja tidak akan menyebabkan tsunami besar. Volume tubuh air yg terdisplace tidak akan sebesar displacement patahan.

    Bagaimana kalau nuke ini hanya sbg triger?

    Mungkin bisa saja, ya, mungkin kuncinya ada di getarannya. Rekaman gelombang ada di smua seismometer yg merekamnya. Selama ini smua rekaman getarannya normal-normal saja.

    Gelombang elektromagnetis ini jg muncul pada gempa, bahkan ada yg menyelidiki sbg “precursor” gempa. Namun saat ini EM ini masih sbg tinjauan science riset. Belum sebagai applied prediction. Terutama Lowfrequency EM.

  12. seperti film hirosima minggu malam di metro tv, gelombang yang ditimbulkan reaksi pembelahan atom nuklir sangat dahsyat… semua benda dihempaskan dengan kuat… ledakan itu mirip bola api yang pernah ditayangkan vidio amatir gempa jogja…
    1.pertahanan laut kita harus dikuatkan
    2.lengkapi teknologi informasi(canggih) AL
    3.berdoa. semoga tidak dilakukan peledakan sepanjang laut
    selatan sumatra-jawa-bali sd timortimur dengan 4 x kekuatan
    ledakan Aceh.

    mungkin kita harus belajar waspada tq 🙂

  13. Ini kunjungan pertama saya di blog mas vicky yang ini (wordpress.com). Kalo yang di blogspot.com sih udah beberapa kali.

    Ulasannya OK bangettt. Bikin melek mata dan sedikit pusing (maklum, udah lama ninggalin earth science).

    Teruskan berkarya mas……bagi-bagi pengetahuan, biar orang-orang Indonesia melek ilmu pengetahuan dan teknologi, bukan ilmu mistik melulu.

    Erf (flora-grafika:91-01)

  14. Sorry ikut nimbrung…
    Sebelumnya ada sdikit slentingan nih;

    “Ga susah lho Mas ngebuat gempa itu”

    Cuma butuh:

    1. Punya peta dan data gunung aktif didarat atau lebih baik yang dilaut.
    2. Punya peta dan data daerah rawan tektonik atau lebih baik peta dan data patahan bumi.
    3. Punya teknologi nuklir.
    4. Punya transportasi tuk kedasar laut atau kedalam lapisan tanah kalau perlu.
    5. Punya waktu cukup untuk menyinggkir sebelum “gempa” terjadi.

    Simple ya’ … Ah, itu hanya sebuah slentingan…

    Komentar yang mau saya sampaikan sebenarnya berikut;
    Saya kira fenomena yang terang dijelaskan diatas hanya faktor pendengaran saja, faktor penglihatanya kurang. Saya kira kata bola api itu tidak sama dengan kata awan/aurora. Kalau awan/aurora kan pembentukannya lambat… Bola api kan tiba-tiba muncul dan menghilang namun meninggalkan jejak. Mempunyai titik awal dan titik akhir, ada kecepatan-nya pula, bahkan mungkin ada percepatan-nya. Yang pasti dari titik awal menuju titik akhirnya itu berlangsung cepat, tidak lupa meninggalkan bekas … asap …

    Yaa seperti kita melempar … ya’ bola api. Seperti yang ditayangkan pagi-pagi di berita di salah satu TV Swasta setelah terjadi gempa selatan jawa barat. Gambar yang tidak sengaja terekam oleh vidio amatir. Namun berita tersebut hanya muncul sekali, pagi-pagi, setelah itu ga pernah ada berita ttg hal itu pernah terjadi. Hanya disebutkan (pada satu-satunya berita tersebut) bahwa kejadian itu pernah dilaporkan juga pada saat gempa di daerah Yogyakarta. Nah lho…

    Sama halnya dengan laporan2 yang identik mengenai ciri-ciri akan terjadinya gempa, sperti vertical cloud atau quake cloud.
    Apakah kita pantas mengatakan “… Awan dan Aurora yang tidak berhubungan dengan gempa …”. Bagaimana tentang sekitar 300ribu nyawa di Cina yang terselamatkan HANYA karena prediksi yang berdasakan awan? Bagaimana tentang para operator yang setidaknya telah diberi waktu sekitar 1 minggu untuk lebih menyiapkan diri menghadapi gempa sehingga pemerintahan Turki memberikan penghargaan kepada seseorang yang sehari-harinya HANYA “memperhatikan” dimana quake cloud terjadi…

    Apalagi bila kita sudah menyinggung soal medan atau gelombang elektromagnetik. Seperti bendungan bocor; bocornya kecil ya air yang keluar sedikit. Bocornya besar, airyang keluar banyak. dan dari bocor kecil, seiring waktu, bocornya semakin besar. Kalau kita katakan “… perubahan sifat eletromagnetik sesaat”, yaa sesaat kalau kita memperhatikannya pada hanya pada saat gempa terjadi dimana bendungannya sudah bocor besar. Bagaimana pada saat bocornya masih kecil (pergerakan patahan bahkan ada yang hanya beberapa cm tiap tahunnya). Apa sih yang mudah terpengaruh oleh gelombang elektromagnetik selain siaran radio atau televisi yang kadang memang terganggu oleh kesalahan teknis manusia. Apa lagi kalo bukan awan yang banyak mengandung ion-ion baik positif maupun negatif yang sangat mudah dan cepat terpengaruh. “… meteorologi, termasuk angin, kelembaban, suhu dan angin …” ha’ bisa saja hal2 ini yang meng-kabur-kan (mengaburkan) pergerakan awan karena faktor gelombang/medan elektromagnetik …

    Ada selentingan lagi nih;
    Segala jenis bencana akan menimbulkan gelombang elektromagnetik sebelum hingga sesaat setelah bencana tersebut terjadi. Hanya ada satu jenis bencana yang menimbulkan gelombang elektromagnetik sesaat dan beberapa waktu lama setelah terjadinya bencana, yaitu: Bencana Nuklir…

    nah lho..

  15. Salut…salut…Mas Vick..
    Memang panjenengan niku jan membumi tenan…
    Apa karena panjenengan lenggah di monco ya???
    Jadi nggak terkontaminasi dgn suasana dalem negeri…

  16. Salam kenal mas

    Nuwun sewu, kalo gak salah panjenengan ini alumni geologi UGM ya? salut dengan upaya panjenengan “memelekkan” masyarakat yg selama ini buta info2 terkait ilmu kebumian…hehehe…biar gak ada lagi yg deg2an karena berita2 ada kapal selam sliwar sliwer di samudra hindia (yg trus diisukan lg nyoba bom nuklir).
    salut mas

    rgds
    Yayan

  17. Alpine,
    Pembakaran selain memerlukan bahan bakar juga memerlukan oksigen. nah dibawah sana oksigen sangat terbatas. Kalau mencukupi, mungkin bisa saja methane (hydrates) itu terbakar dibawah laut dengan pemicunya bara dari lava yg sering dijumpai dibawah laut. Namun bara bawah laut ini biasanya bukan di dekat penunjaman. tetapi berada justru ditengah laut, disebut “spreading centre”, pemekaran samodra. OK ntar aku dongeng ttg pemekaran samodra.

    salam

  18. Betul !!
    Andapun harus hati-hati dengan situs wordpress.com. Termasuk webblog ini !
    Saat ini informasi bukanlah hal yg ekslusif, siapa saja dapat memperolehnya dengan mudah. Yang lebih penting adalah bagaimana menyeleksi informasi ini. Bahkan bila anda melihat institusi pendidikanpun ( dot edu) banyak yg juga terpeleset dalam meniti science ini.

    Perjalanan mnyusri science ini tidak mudah. Saya saja juga sering kepleset dengan “pseudo science” (ilmiah semu).

  19. Rovicky Said:
    […deleted…]
    Ada banyak ribuan website ttg hal ini. Selain itu aku lihat semua web itu domainnya dot org, dot net ataupun dot gratisan, sehingga aku ndak yakin kredibilitasnya.
    […deleted…]
    Salah satu yang saya lakukan ketika melihat atau menilai kompetensi sebuah web adalah domain (dot edu paling aku sukai, juga dot gov atau go).

    Komentar:
    wah kalo gitu situs ini (dot-com)juga dipertanyakan kredibilitasnya donk.. alias tutup mata dgn segala bukti2/fakta ilmiah didalamnya.. hehehe

    Rekan2 mungkin ada yg punya reference dr pakar nuklir kita ngga?

  20. pak, aku pernah naek pesawat (ke Canada), melewati beberapa zone waktu sehingga malam hari hanya berlangsung beberapa jam dan siang beberapa saat saja. saat itu di langit sebelah utara muncul awan bercahaya. aku tanya teman, katanya itu aurora. bener kali ye? lha wong aku taunya aurora tu temennya maria mercedes..

  21. apakah mungkin metane itu sudah terbakar dan menjadi bola api di bawah lautan (percikannya bisa dari patahan yg menggeser), hingga yg keluar hanya sisa2 metane yg terbakar? (seperti gelembung air?)

  22. Akau kalau liat Jovialis ini sejak gempa Tsunami aceh, bom mikro nuke di bali dan ujung2nya mintak sumbangan wuik !

    Hampir semua website yg crita ttg awan gempa dan nuklir bukan berasal dari website yg kompeten.

    http://quake.exit.com/ dan juga http://www.gisdevelopment.net/proceedings/tehran/p_session2/bama.htm dll. Ada banyak ribuan website ttg hal ini. Selain itu aku lihat semua web itu domainnya dot org, dot net ataupun dot gratisan, sehingga aku ndak yakin kredibilitasnya. Kalau ada yg dot edu seperti studi EM yg aku lihat masih mengatakan studi EM ini masih belum bisa dipakai sebagai bahan prediksi praktis. Aku lebih mathuk dengan istilahnya Pak Djedi dari LIPI, bahwa penelitian dengan gelombang EM masih dalam pengertian “scientific EQ prediction” ketimbang “practical EQ prediction“.

    Salah satu yang saya lakukan ketika melihat atau menilai kompetensi sebuah web adalah domain (dot edu paling aku sukai, juga dot gov atau go). Juga seringkali website yg kunilai kurang adalah ketika ada “permintaan sumbangan“, buatku permintaan sumbangan ini menunjukkan kurangnya kredibilitas. Walopun beberapa mencuplik istilah serta penelitian science (dengan percobaan).

    Nah kalau ada yg meneliti awan vertikal dari dot edu aku mungkin tertarik.

  23. ada seorang purn tni-au (bpk gandung swasono, miri kl sriharjo kec imogiri) melihat dengan jelas keluarnya bulatan menyerupai bola api dari tempuran s oya dan s opak di malam hari, silahkan hubungi agar lebih jelasnya.

  24. Wah..wah MAs Rovicky memang menjadi “sumber pencerahan” yang semakin cerah dari ke hari…
    JAdi memberikan motivasi bagi Young Geologist kaya saya ini…
    JAdi ingat pencerahan yang MAs Rovicky berikan dulu saat jalan-jalan ke Borobudur-Parangtritis bareng dengan bule dan Si Arif Nur Cholis..

    ” Belajarlah sesuatu yang kamu tidak suka dengan sungguh-sungguh, karena lebih mudah bagi kamu untuk belajar sesuatu yang kamu sudah suka sejak awalnya..”

    Yudha’TGL’98
    -yang dulu tidak suka mineral dan eh..sekarang nyangkut di Freeport-

  25. Utk penampakan bola api serta suara-suara Dung ! Silahkan baca disini juga link yg saya tunjuk :
    http://rovicky.wordpress.com/2006/07/20/percobaan-nuklir-diselatan-pulau-jawa-upst/
    http://rovicky.wordpress.com/2006/07/20/itu-bola-api-beneran-wah/

    Soal bau belerang itu sangat mungkin karena kondisi rawa-rawa sering menghasilkan H2S. Seperti gas-gas yg juga ikut terproduksi di Lumpur Panas di Sidoarjo Jawatimur sana. Ketika air naik, maka endapan-endapan gas tersebut tersingkap tererosi, dan terbawa ke darat.
    Nah, tsunami yang di Aceh dulu airnya juga keruh berwarna kehitaman, karena lumpur di pinggiran pantai ini banyak mengandung zat-zat organik yg subur utk tumbuhnya bakau. Kalau anda di rawa-rawa maka akan banyak menjumpai bau busuk. Terutama kalau di Cilacap karena terhalang pulau Nusakambangan.

    Gas alam memang mungkin terpicu keluar. Kalau anda baca tulisan saya duluuuu skali tentang Hydrate (gas metan beku) yg banyak dijumpai di laut dalam, mungkin anda akan mengerti mengapa ada bola api, swara dunk dan juga asap.

    smoga membantu kawan lain yg bertanya-tanya.

  26. kula nuwun pak rovick..
    ada yang mau saya tanyakan berkaitan dengan gempa di pangandaran, dr beberapa saksi gempa dan tsunami dipangandaran sebelum terjadi tsunami dan gempa terderngan suara mirip letusan meriam, dan kemudian dr air keluar asap berwarna kuning.
    yang akan saya tanyakan fenemena apakah asap tersebut?
    kemudian, dari korban yang selamat dari gulungan gelomban tsunami, ada yang mengatakan air laut berbau belerang dan amoniak, saya tidak paham dengan itu. adakah kemungkinan gas alam yang naik ke permukaan?
    mohon dibagi pengetahuannya.
    matur sembah nuwun..

  27. ternyata riset tentang awan gempa sudah ada, dan secara statistic keakuratan prediksi awan gempa ini 60%. Penjelasan ttg awan gempa dapat dibaca di

    http://quake.exit.com/A991003.html

    Jadi mulai sekarang rajin2 lah melihat keatas.

    Pas di Yogya, hari minggu kemarin, tanggal 16 juli sekitar jam 4.30 sore, saya lihat awan yang bentuknya lurus di arah selatan dan agak condong ke barat… ehh.. kok ndilalah 24 jam kemudian terjadi gempa besar di Pangandaran.
    Dan ini jelas2 awan lho pak, bukan aurora atau asap pesawat.
    saat itu langit biru cerah dan panas ngenthang-ngenthang.

  28. ternyata riset tentang awan gempa sudah ada, dan secara statistic keakuratan prediksi awan gempa ini 60%. Penjelasan ttg awan gempa dapat dibaca di

    http://quake.exit.com/A991003.html

    Jadi mulai sekarang rajin2 lah melihat keatas.

    Pas di Yogya, hari minggu kemarin, tanggal 16 juli sekitar jam 4.30 sore, saya lihat awan yang bentuknya lurus di arah selatan dan agak condong ke barat.. ehh.. kok ndilalah 24 jam kemudian terjadi gempa besar di Pangandaran.
    Dan itu jelas2 awan pak, bukan aurora atau asap pesawat. saat iyu langit biru cerah dan panas ngenthang-ngenthang.

  29. # 9 (Alfia):

    “Lalu kok, di Jogja ada suara gleduk tapi nggak ada tsunami. Apa penjelasannya ?”

    Kalau yang dimaksud mbak Alfia adalah gempa Yogyakarta, jelas nggak terjadi tsunami lha wong -seingat saya- episenternya ada di darat.

  30. Kulonuwun Pak Rofiq….

    ‘bola api’ itu saya melihatnya kmarin di tayangan TV7.. Entah apapun itu namanya yg pasti membuat saya semakin mengerti bahwa memang benar2 dahsyat semua yang telah diciptakanNya…

  31. punten pak rovick… saya setuju dengan sdr/i Alfia, sepengaetahuan saya yang namanya aurora itu pasti berlansung terus menerus dan waktu yang bisa dibilang lebih lama, dan apakah setelah gempa pertamakali dimana skalanya tidaklah terlalu besar perbedaannya kok tidak terbentuk aurora??

    jika saya perhatikan bola api saat terjadi gempa/tsunami juga terjadi hanya sekian detik saja… gimana pak rovick??

  32. Membaca tulisan pak Rovick saya mendapat kesan, pak Rovick sendiri tidak yakin apakah cahaya itu betul fenomena aurora, karena sering pakai kata “mungkin” atau pun “barangkali”. Saya sempat lihat di TV rekaman video tsb, dan cahaya itu berupa gumpalan bola. Bahasa sononya kayak “fire ball”. Sementara bentuk aurora di website ini memanjang.
    Lalu, apakah saat gempa dan tsunami di Aceh ada fire ball juga dan suara gledug ? Seharusnya suara gleduk di Aceh lebih besar karena tsunaminya lebih dahsyat. Logiskan, karena dislokasi vertikalnya lebih besar. Lalu kok, di Jogja ada suara gleduk tapi nggak ada tsunami. Apa penjelasannya ?

  33. makasih penjelasannya,cuma gue mau nanya kalimantan daerah yang bebas gempa,trus kalimantan ikut lempengan mana,dan saya itu aneh melihat dataran di kalimantan rawa semua bahkan menutur kata orang (entah benar ato tidak) 5 meter dibawah permukaan laut, so apakah dataran kalimantan itu seperti kasus menyembul pulau/dataran dirawa pening ambarawa.

  34. Kulonuwun Pak Rovick,

    Saya juga wong Jogja sama dengan commentator sebelumnya, terus terang aja Dab, saya suka website-e. Dapat penjelasan logis, masuk di akal. Cuma bener kata sampeyan, orang-orang Jogja tetap aja mengkaitkan dengan hal-hal mistis, hal-hal yang irasional. Jadi kalo rasio dan orasional memang gak iso nyambung yo. Yen nyambung yo kebetulan. Tentang pancaran cahaya oranye kekuning-kuningan, kalo dipelsetkan ya jadi merah gilirannya, dari mulut ke mulut ya tahunya ada bola api merah. Cuma saja apakah benar cahaya itu aurora. Memang setah saya aurora (hanya) ada di kutub, tapi penjelasan sampeyan bisa juga di sekitar khatulistiwa. Maksudnya tidak pas di Khatulistiwa to? Sebab kan terjadinya di langit atas di lepas Pantai Selatan Jawa. Saya lihat rekaman video amatir, memang pas gempa ada cahaya oranye kekuning-kuningan pas waktu gempa. Rekaman itu diambil di Pantai Parangtritis. Tadinya saya pikir pantulan yang ditangkap kamera (bias cahaya) atau pantulan cahaya matahari yang mengenai awan, tapi ternyata enggak. Cahaya itu memang mengumpul, dalam kondisi langit saat itu mendung, sehingga cahaya itu kelihatan jelas. Kalau dalam term Jawa keq gitu disebut “luh braja” (istilahnya mistis ya he…he…). Saya baca waktu gempa Pangandaran juga gitu. Saya masih kurang mantap dengan penjelasan Mr. Rovick, berharap ada penjelasan yang lebih “mak jlegung” lagi biar mantap. Kalau tentang awan gempa….. saya jadi paham, dalam term Jawa hal itu disebut “klawung/kluwung”. Tafsirannya ada dua, pertama tanda akan ada bencana dan kedua tanda akan ada hujan. Tanda yang akan hujan ini terbukti dini harinya hujan, dan sepanjang hari gerimis. Kalau saya crosscheck dengan Pak Rovick ya itu pertanda pergantian musim. Mohon juga Pak Rovick mengulas perbedaan/persamaan gempa Pangandaran dan Jogja dan efek yang ditimbulkannya.
    Saya baca tulisan Pak Rovick yang mengomentari berita tentang kerjasama penanganan/manajemen bencana dengan Amrik. Apa orang-orang kita ndak mampu untuk menilai memprediksikan gempa? Kalau lihat di-posting yang dari BU Dwikorita prediksi akan adanya gempa di Jogja, telah ditulis secara ilmiah setahun lalu, supaya kita siaga. Toh sebenarnya orang-orang kita pinter-pinter to. Keq Pak Rovick ini juga oke orangnya he…he… Saya dan temen-temen mikir kok kelihatannya BMG nggak bisa kasih early warning ya dan menanggapi data nggak responsif. Contohnya ada teman dikasih tahu ponakannya di Jerman bahwa kemungkinan ada gempa di Jogja tahun ini, teman saya paling itu gempa volkanik, tapi ditegaskan bukan volkanik lalu dikirimi gambar citraan satelit Nasa, akan ada gempa tektonik dalam waktu dekat karena pergeseran lempengan. Namun ketika gambar itu dilaporkan ke BMG.
    Gitu dulu ya, terimakasih atas informasinya, dan moga tetap nulis terus, so bisa kasih info up to date.

    Matur nuwun,

  35. Kulonuwun Pak Rovicky,

    Maturnuwun sudah mengusahakan penjelasan yang gampang dimengerti kaum awam seperti saya. Saya tinggal di Jogja dan terus terang setiap kali ada peristiwa alam yang mencemaskan, saya lari ke blog-nya Pak Rovicky, saya print, copy dan saya sebarkan ke orang-orang di sekitar saya dan teman kerja yang banyak dari Bantul, sekaligus juga sebagai korban karena hilang rumah dan keluarga. Sekarang mereka mulai lagi cemasnya. Besok (19/7) saya berangkat ke Bali nge-bis 🙁 untuk tugas lapangan (saya kerja di LSM bidang pertanian organik), orang rumah sudah cemas dengan tsunami warning di Bali yang ditayangkan pada newsticker MetroTV. Bagaimana ya Pak, saya tahu memang harus waspada, dan dulu IAGI juga memperkirakan di bawah selat Bali berpotensi memicu gempa. Kalau sekarang situasinya seperti ini apakah selat Bali bisa dengan cepat menyusul ikut timbulkan gempa dan tsunami? Jawaban Anda ditunggu keluarga saya dan mereka janji akan memberitahukan ke saya via telpon (maklum di pelosok desa tidak ada internet).
    Lha kalau saya tanya Bapak should I cancel my trip, saya kuatir njenengan akan marah-marah, terus jawabnya emangnya saya dukun? 🙂

    Matursembahnuwun Pak Rovicky, sugeng makarya!!!

Leave a Reply