Nuklir Indonesia, menggandeng siapa ?

0

Masuk era Nuklir Energy, merupakan entry door memasuki dunia baru. Namun didalam dunia masadepan akan sangat mungkin ditentukan saat ini. Indonesia yg belum memiliki pengalaman dalam bidang energi nuklir perlu ‘menggandeng’ kawan dalam mengembangkannya … Nah siapa teman yang sejati ? Iran, Amerika, Cina, Jepang atau India ?
Setelah ada indikasi Indonesia akan bekerja sama dengan Iran dalam teknologi Nuklir sebagai pembangkit Listrik seperti yg dikutip dari Detik.com

Tuesday, 27 June 2006
Luhur Hertanto – detikcom (sumber: Detikcom 27 Juni 2006 )

Jakarta – Pemerintah berniat mempercepat pengadaan pembangkit listrik
tenaga nuklir (PLTN) yang semula ditargetkan paling lambat
realisasinya pada 2016 menjadi 2011. Nah, untuk partnernya, Indonesia
menjajaki kemungkinan kerjasama dengan Iran.
Percepatan target yang tertuang dalam Kebijakan Energi Nasional ini
dimaksudkan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan energi listrik
yang pada tahun 2009 diperkirakan mencapai 3.000 mega watt.

Kali ini lagi-lagi Amerika ndak mau ketinggalan untuk “ngrecokin” Indonesia lagi dalam mengadakan kerjasama Internasional. Seperti yg ditulis oleh gatra sebulan setelah indikasi kerjasama Indonesia dengan Iran.

http://www.gatra.com/artikel.php?id=96257
RI-AS
Jajaki Kerja Sama Nuklir

Washington, 15 Juli 2006 15:58
Pemerintah Indonesia menjajaki peluang kerja sama dengan Amerika Serikat
(AS) dalam membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).

Penjajakan awal ini dilakukan Menteri Riset dan Teknologi (Menristek),
Kusmayanto Kadiman dengan penasihat senior tenaga nuklir dari Departemen
Energi AS, dan pihak Nuclear Energy Institute (NEI) di Washington DC, hari
Jum`at (14/7).

Menarik juga menggandeng Iran.

Malaysia secara terbuka mendukung negara-negara Islam. Dan akhirnya mendapatkan lisensi untuk mengexplorasi-eksploitasi di negara-negara Islam di Afrika termasuk Sudan dll. Dengan begini produksi Petronas secara global telah meningkat tajam melebihi 1 Juta barel/day. Jauh diatas Indonesia secara keseluruhan.
‘Menggandeng siapa’, dalampercaturan global akan sangat menentukan ketergantungan dan aliainsi. Malaysia cukup ‘cerdik’ untuk berani menyatakan mendukung negara Islam hingga sukses masuk ke negara-negara Islam di Afrika dimana sumber migasnya masih belum banyak disentuh tangan-tangan ‘barat’. Salah satunya di Sudan, yang sudah mulai akan memproduksi 250.000 Barrel perhari.
Nah, Indonesia mau tetep ambigu dengan mengangkangi keduanya atau malah justru terinjak keduanya, itu sangat tergantung kita.

Mungkin sebentar lagi negara-negara lain akan “merayu” Indonesia untuk berkongsi dalam pengembangan energi maju ini.

Siapa mau ??
Jerman, India, Cina, Jepang … ?
Hayooo tunjukin teknologimu, nanti aku contek ! … upst !!!

1 COMMENT

  1. SETUJU SEKALI….INDONESIA PUNYA SDM, SDA YG CUKUP AKAN HAL ITU…..TERBUKTI 3 REAKTOR DI BANDUNG 1965, JOGJA(kartini 1970an) DAN SERPONG (1985) ….murni karya anak bangsa dan telah lulus bencana (jogja) orang pinter pasti dukung hal ini….

  2. saya rasa reaktor nuklir sangat dibutuhkan bagi indonesia apalagi skarang ini indunesia sedang dilanda krisis energi !
    yang penting yang mengelola nuklirnya profesional,saya rasa indonesia sebaiknya menggandeng jepang dalam nuklirnya karena jepang memiliki alam yang tidak jauh beda dgn indonesia (sering gempa) dan kehati-hatian kerja yng baik

  3. Yah mungkin mreka takut untuk membangun nuklir..
    padahal dengan nuklir energi yang dihasilkan sangat besar..masyarakat pasti bisa menikmati listrik dengan murah..
    sekarang listrik pada naek hargax..
    semoga indonesia bisa membangun PLTN berskala besar:)

  4. SDM nuklir indonesia sebenarnya sudah cukup mumpuni, kita sudah pengalam kurang lebih 30 tahun operasikan reaktor nuklir. kita sudah punya 3 reaktor nuklir untuk penelitian yaitu reaktor kartini di yogya, reaktor, triga mark II di bandung dan reaktor siwabessy di serpong. memang untuk tahap awal pembangunan pltn kita perlu menggandeng negara lain untuk pembangunan pltn, sehingga disana akan terjadi transformasi ilmu.

    untuk informasi nuklir dan pltn terkini dan ter aptudate silahkan kunjungi kami.

  5. permisi,

    kalo boleh nanya, bukankah nuklir di indonesia masih kontroversi. bahkan secara umum masyarakat malah ketakutan mendengar nuklir. ada yang ngira itu bom sepertri kejadian di jepang PDII.

    terus banyak arus massa yang secara terang-terangan menolak PLTN itu sendiri. di jepara banyak LSM yang nolak PLTN. trs di Madura mahasiswa malahan yang berdemo menolak pembangunan PLTN?

    itu gimana??
    matur nuwun

  6. NUKLIR? kenapa perlu takut..?
    uda bertahun – tahun BATAN berdiri…
    gedung n riset reaktornya jalan lagi…
    n jangan lupa sama orang2 dibalik layarnya BATAN..
    saya yakin, mereka bukan orang Indonesia sembarangan..
    karena kalo pengoperasiannya ga’ bener, pemecatan pasti terjadi…
    jadi, kedisiplinan dan ketelitian dalam membangun dan menjalankan PLTN dapat dibangun kan…?
    yang jelas…
    TIDAK ADA NEGARA MAJU YANG BENAR-BENAR HEMAT LISTRIK..

    + – nya renungin dulu de…

  7. saya juga setuju dengan pengembangan energi alternatif penyuplai listrik,pengganti minyak bumi, seperti nuklir misalnya. asal benar cara penangannya, sebuah reaktor nuklir bisa menggantikan beberapa PLTU. jangan sampai nanti dana pemeliharannya disunat sana-sini sehingga tak ubahnya seperti kasus maskapai penerbangan yang ada di indonesia, gara-gara telat perawatannya akhirnya menimbulkan korban harta dan jiwa yang tidak sedikit. Lha klo misalnya PLTN-nya nanti telat service gimana? bolong dah pulau jawa!!!

  8. Masalah energi nuklir memang sangat menarik untuk dibicarakan. Dari penelitian yang dimuat di national geographic disebutkan bahwa tanpa peran serta energi nuklir yang mencapai sekitar 17% dari produksi listrik dunia, maka jumlah karbon dioksida yang diemisikan akan meningkat sekitar 2-3 kali lipat. Kita seharusnya berterima kasih atas peran energi nuklir karena secara signifikan mampu mengurangi karbon dioksida yang merupakan penyebab pemanasan global. Indonesia memang mempunyai sumbar batubara yang berlimpah, tetapi harap diingat bahwa batubara adalah penghasil karbon dioksida. Menurut rencana pengembangan kelistrikan dari ESDM terlihat bahwa peran energi nuklir pada tahun 2025 di Indonesia cuma sekitar 2-4%. Peran terbesar dipegang oleh batubara. Dan batubara merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui. Kalau saya tidak salah, cadangan batubara di Indonesia cuma mampu memenuhi kebutuhan hingga 60 tahun ke depan. Uranium untuk reaktor nuklir juga merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui, tetapi bahan bakar bekas reaktor nuklir mampu didaur ulang. Waktu hidup rata-rata dari suatu PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) adalah sekitar 40 tahun. Menurut saya, Indonesia seharusnya menggunakan seluruh kemampuan energinya (batubara, gas, minyak bumi, energi nuklir, biofuel dll) untuk mengatasi krisis energi nasionalnya. Kita tidak seharusya bertumpu pada salah satu sumber energi saja, karena hal itu akan sangat rawan. Dulu Indonesia bertumpu pada sumber energi minyak bumi, dan setelah harga minyak naik tinggi maka harga listrik juga naik tinggi dan menyengsarakan rakyat. Semua sumber energi punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Oleh karena itulah lebih baik sumber-sumber energi tersebut dimix untuk memenuhi kebutuhan energi listrik nasional Indonesia di masa yang akan datang.
    Mengenai kerjasama nuklir internasional, saya pribadi lebih memilih kerjasama dengan negara-negara Asia (termasuk Iran dan Rusia). Karena saya memandang Asia akah menjadi negara yang lebih besar daripada Amerika. Lagipula benua Asia adalah benua terbesar di dunia.

  9. Pertanyaan saya adalah mengapa alternatifnya nuklir yang (menurut konteks Indonesia) masih sangat kontroversial?
    Mengapa bukan batu-bara (yang jelas kita punya resource-nya) atau geothermal (dimana kita salah satu yang punya resource terbesar di dunia)?

  10. Saya setuju menggandeng US atau negara negara maju lain nya untuk mengembangkan PLTN, tidak usah pergi ke Iran yang sedang di usahakan dikucilkan. Nanti malah report ikut terkucil.
    Mengenai harga listrik PLTN mahal itu sudah resiko, lagi pula listrik yang sampai ke tangan konsumen sudah merupakan agregat yang dari PLTGU/PLTU batubara/PLTU Geothermal dan lain lain yang tidak kelihatan lagi dari mana asalnya. Umumnya dinegara maju mahal murah nya tergantung subscribe nya ke operator mana, hampir sama seperti kita langanan ponsel.

    Saya ingat dulu USSR sebelum collapse pernah memasarkan compact reaktor 100 MW, technology yang tadinya dipakai sebagai power plant buat kapal selam dan aircraft carrier. sebetulnya ukuran sebesar ini cocok buat kota kota kecil yang tidak ada system inter koneksi. Tetapi tapi setelah chernobyl dan teknology USSR di hujat disana sini ngak pernah kedengaran lagi review tentang compact reactor tersebut.

  11. Pendirian PLTN merupakan salah satu solusi dalam memenuhi kebutuhan listrik,tetapi apakah dengan harga listrik yang murah mampu untuk mengembalikan dana pembangunan PLTN di semenanjung muria. Tapi pembangunan PLTN itu menunjukan bahwa kita negara yang kuat dan ingin maju dan tidak ingin digrncet sama negara maju yang lain….
    tapi masalahnya negara mana yang betul-betul ingin kerjasama dan bukan untuk mengeksploitasi negara kita secara besar-besaran malah nanti negara bisa rugi…

  12. Lha iya tha Mas,

    Bayangkan dengan sekelingking Uranium-235, kandungan energynya sama kayak ratusan tangker minyak

    asal : pengoperasiannya benar, & disiplin

    Saya sih setuju banget adanya PLTN asal di bangun di daerah yang bebas bencana secara geografis maupun geologis

  13. Lho kan Indonesia sudah pengalaman to Om
    kalo ndak salah ada tiga reaktor nuklir di Bandung, Jogja dan Serpong.
    mungkin cuma yg kapasitasnya besar yg belum pengalaman 🙂

  14. Sebetulnya, untuk saat ini seberapa pentingnyakah kebutuhan akan energi nuklir? Jika memang Indo harus menggandeng negara lain dalam mengembangkan energi nuklir, kira2 negara mana yg cocok buat Indo. Maksud saya, jangan sampai nanti malah Indo di exploitasi abis2an.

Leave a Reply