Nasib Supir “Banjarpanji-1”

0

Kalau ada bis nabrak pagar orang lain sampai tanaman hiasnya rusak dan mengorbankan tukan kebun hingga luka maka siapa saja yang akan menjadi subjek penyidikan pulisi ?
Supir !

Tentusaja disinilah selalu menjadi awal penyidikan pulisi. Dimana-mana yg “in-charge” dalam pengendaraan sebuah kendaraan adalah supir. Hal mudah juga ketika terjadi pembunuhan Munir dalam pesawat, maka pilotnyalah yg dianggap bertanggung jawab atas keselamatan penumpangnya. Memang bisa saja pilot tidak tahu menahu tetapi di pundaknya terdapat tanggung jawab atas tugasnya.

Nah ketika menanggung beban tanggung jawab, maka perusahaan pemilik bis akan bertanggung jawab mengganti ongkos kerusakan pagar serta tanaman, dan juga biaya pengobatan korban si Tukang Kebun yg luka-luka ini. Namun yg diajukan ke pengadilam memang seringkali supirnya. Kalau toh nanti terbukti bahwa ternyata rem-nya blong, diperiksalah remnya. Kalau ternyata ada korupsi di bagian pengadaan kampas rem, maka bagian kampas rempun akan terseret juga.

BPJ-1

Adalah hal logis saja, inilah yg disebut ‘in-charge” seperti yang penah aku singgung disini dahulu ketika konsorsium dari ConocoPhillips, Premier Oil dan Star Energy memperoleh penghargaan Departemen sosial karena memberikan sumbangan ke penduduk di daerah operasi. Nah saat ini kita melihat kasus yg mirip tetapi utk juga menanggung akibatnya. Yang namanya “in charge” itu satu paket baik dan buruk.

Banyak rekan-rekan saya yg bertanya-tanya, kenapa driller yang harus tanggung jawab. Ya seperti logika diatas saja. Bahwa driller di lapangan akan paling berat menanggung tanggung jawab, tentunya sama saja dengan kasus supir diatas yg menabrak pagar, walopun si supir sudah teriak “aku ngga sengaja …sware !!”, tetep saja akan masuk peradilan dulu . Kalau nanti terbukti ada kealpaan dipihak lain tentu saja akan ada pihak terseret ke pengadilan. Nah, yg mengganti ongkos kerugian kiri kanan-nya yang mengalami kerugian (collateral damage) ya perusahaannya dalam hal ini Lapindo dan Medici (?).
(Note: Dalam kasus BPJ-1 ini memang tidak sesederhana kasus bis nabrak tentusaja. dalam hal ini Medici (pemilik bis) Lapindo yg nyarter bis).

Nah seperti yang juga dibilang pal pulisi bahwa kemungkinan merembet “keatas” adalah juga dalam masalah tanggung jawab. Siapa yg lebih bertanggung jawab ini bisa yg secara langsung menyuruh atau memaksa untuk melakukannya.
Namun dalam kasus Munir kalau berani keatas bisa kena …. DORR!!
Wupst … ini mah urusan pulitik …it is beyond my knowledge

PSC

Nah beginilah dalam PSC term. Yang incharge adalah perusahaan yg menerima kontrak akan menanggung nama baik dan buruk. Tetapi dalam kontark PSC cadangan minyak bukan milik si kontraktor pemegang PSC. Berbeda dengan kontrak karya dimana cadangan migas itu miliknya kontraktor. Looh hebat kan sistem PSC ini. Makanya Indonesia (dulunya) ini cukup bagus looh dalam hal PSC.

Dengan demikian seandainya BPMIGAS telah menjalankan tugasnya sesuai dengan prosedur yg berlaku ya ndak usah takut terseret. Kecuali ada kealpaan, penyelewengan ataupun kesalahan dengan kesengajaan

Leave a Reply