Mengapa perlu investor yang “persistent” ? Mau bisnis atau judi ?

11

Bisnis migas sering dikatakan sebagai bisnis berisiko, namun bisnis ini secara ekonomi jelas-jelas sangat menguntungkan. Apakah ada unsur gambling atau judi dalam bisnis ini ?

Mungkin ada sisi untung-untungan atau tebak-tebakan, tetapi tentunya tidak seluruhnya dapat disebut sebagai berjudi, kan ?

Nah coba kita tengok, katakanlah sukses rasio (secara statistik) dalam pengeboran eksplorasi (exploration drilling) adalah 1:10 (10 sumur eksplorasi akan menghasilkan satu yang sukses). Sedangkan kalau usaha ini sukses maka keuntungannya bisa mencapai 15-20 kali lipat. Artinya kalau biaya satu sumur sebesar 10 juta dolar dan perusahaan memiliki jumlah uang lebih dari 100 juta dollar (tidak terbatas), maka drilling eksplorasi sebanyak 10 kali secara “random” maka kita akan mendapat satu sumur yg sukses (by statistical chance). Katakanlah biaya mengebor satu sumur itu sepuluh juta dollar, maka biaya yg dikeluarkan akan mencapai 100 juta dollar, namun karena keuntungan dalam dari satu sumur ini saja bisa mencapai 15 kali artinya kita akan memperoleh 150 juta dollar. Seolah-olah keuntungan kita sudah “pasti” 50 juta dolar, kan ?

Kalau memang ada “kepastian” keuntungan mengapa kita tidak lakukan sendiri ?
Nah disini kita dapat bermain-main.

Dengan biaya pengeboran (eksplorasi) sebesar 10 juta dollar persumur, maka dengan jumlah uang lebih dari 100 juta dolar saja yang akan memperoleh “kepastian” untung. Sedangkan yg kita miliki ternyata hanya 20 juta dollar. Artinya kita pasti akan quit from the bisnis ketika mengebor 2 sumur saja, karena gagal, chance kita sangat kecil dengan jumlah uang yang kecil. Nah kalau berhasil maka kita untung, sedangkan kalau gagal duit 20 juta dollar amblas begitu saja.
Itulah sebabnya banyak yg bermain “judi” ini dengan “berkongsi” sebagai sarana berbagi risiko (sharing risk). Dengan lima orang yg bermodal sama, maka mengebor 10 sumur akan sangat dimungkinkan sehingga kita akan memiliki “kepastian” tinggi akan untung dengan bisnis eksplorasi migas ini.

Bagi negara yg tidak memiliki modal seperti Indonesia maka tentu saja memerlukan modal dari luar (investor) untuk melakukan usaha eksplorasi. Modal ini dapat saja berasal dari dalam negeri, dapat pula modal berasal dari luar negeri. Nah sayangnya pemodal didalam negeri ini masih sedikit yang berani menaruh (mempertaruhkan) uang sebesar 100 juta sebagai modal mengebor 10 sumur. Sehingga seolah-olah bisnis migas ini “terkesan” high risk. Padahal kalau modalnya tidak terbatas bisnis ini boleh dibilang “tidak berisiko“, karena kepastian (probabilitas) akan untung sangat besar (mendekati 1 -> pasti).

Apakah ini berjudi ?
Seandainya saja kita hanya memiliki modal untuk melakukan pengeboran 3 sumur saja, maka ada usaha mengurangi risiko dengan studi geologi/geofisika, diharapkan geologist akan lebih “titis” (pandai dalam menebak) ketika memilih lokasi sumur pengeboran, sehingga tidak perlu 10 sumur dalam mencapai “kepastian” untung. Artinya diusahakan supaya sukses rasionya tidak lagi 1:10 tetapi mungkin diharapkan 1:5 (20% kemungkinan sukses). Disini “succes chance”nya sudah berubah, sehingga modal yg dipakai tidak lagi harus 100juta. Yang terjadi disini adalah usaha menekan risiko, dari untung-untungan yang “random” berubah menjadi mengandalkan otak geologist. Namun modal kita tetap hanya mampu mengebor 3 sumur, padahal untuk success chance 20%, kita memerlukan 5 sumur secara random dibor (nanti akan saya tuliskan bahwa sebenernya 5 sumurpun belum mendapat kepastian, note rdp). Nah akhirnya hanya dengan mencari partner atau pemodal lain untuk membiayainya (sharing risk) maka proyek ini akan visible untuk dijalankan.

Nah kalau modal kita kecil supaya tidak “terkesan berjudi” dalam bisnis migas ini ya harus dilakukan dengan berkongsi (partnering) sebagai ajang berbagi risiko.

Mengapa kita memerlukan investor yg “persistent” ?

Persistent” didefinisikan sebagai sikap yg konsisten dan kontinyu melakukan sesuatu dengan kesabaran. Artinya tidak dengan mudah berputus asa. Mengapa hal ini perlu dalam bisnis migas yg berrisiko ini ? karena pada dasarnya ketika melakukan eksplorasi awalnya sekali gagal, kemudian dua kali gagal, tiga kali gagal dst … tentunya akan memiliki batas sehingga menentukan untuk “quit from the game” atau keluar dari daerah ini. Sebenarnya yang terjadi adalah adanya “learning proccess” dalam melakukan eksplorasi. Ketika gagal dalam sumur kedua, maka sumur ketiga “seharusnya” memiliki chance yg lebih besar ketimbang sumur pertama demikian seterusnya, artinya “learning proccess” ini akan mengurangi risiko untuk “next well“. Namun kalau perusahaan yg melakukan eksplorasi ini mudah putus asa (tidak persistent), maka pemain baru akan memulai lagi dari awal. Artinya pergantian pemain akan menyebabkan “stepping back of the local knowledge”. Itulah sebabnya di Malaysia ( duh lagi-lagi malaysia sih 🙁 ) eksplorasi yang dilakukan Shell di daerah Sarawak dan Sabah, cukup sukses, sedangkan di daerah Peninsular dilakukan oleh Esso. Kedua perusahaan ini sukses menjadi operator di kedua daerah ini. karena merekalah yg memilki local knowledge. Tentunya ada titik jenuh juga suatu saat. Namun dengan sistem pengembalian daerah yg ditulis sebelumnya tentang perbandingan PSC Indonesia dan Malaysia, menjadikan kontinuitas eksplorasi di Malaysia cukup bagus perforemancenya.

Jadi jangan buru-buru putus asa.
Statistik dapat membantu kapan saat yg tepat utk mundur.

N ote :
– “Persistent” : existing for a long or longer than usual time or continuously (Webster).
– Angka-angka 1:10 diatas hanya sebagai gambaran saja, namun real case mirip seperti yang ada di gambar diatas.
– Perhitungan ekonomi tentunya tidak sesederhana ini, karena nantinya ada banyak indikator ekonomi (ie ROI, ROR, NPV, EMV dan lain-lain).

11 COMMENTS

  1. Mmhh… Sebetulnya bela Jerman, karena mereka termasuk team yg menjunjung Fair Play, dan kebetulan Tuan Rumah (kesian gak sih kalo tuang rumah gak ke finalll).Tapi kok pas akhir2 pertandingan malah NGOS NGOS an. Mungkin para pemain Itali udah biasa kayaknya main di Liga yang selalu terus menerus, sehingga dari sisi mental dan fisik mereka siap…n juga skandal kasus Juve kayaknya juga membuat mereka makin solid.. Yang hebat di sini adalah Lippi, Gatusso dan Buffon… wah mereka ok bangetz!!! Tadinya sempat pesimis, karena berdasarkan data statistik yang akurat, 83% bujangan Italia masih di bawah ketiak “mama” nya, termasuk para pemain bola nya itu, dan semua orang yang terlibat di dunia bola pro juga dah tau kalo Liga Italia juga termasuk liga yg penuh kepura2an… ‘
    Wah… ternyata mereka bisa membuktikan pada akhirnya, bahwa mereka adalah team yg solid dan ditakuti… bukan hanya jual tampang saja… Saludddddddddd dehhhhhh

  2. — In [email protected], “Kuswo Wahyono” [email protected]… wrote:

    Deal bisnis dengan siapa? Kalau waktu membeli TAC Humpuss Patragas belum ada perhitungan “cost recovery” dan “persentase sharing”.

    Saya kutip tulisan pak Ariadi Subandrio: “… Dalam konteks PSC Indonesia, reward untuk Cost Recovery adalah didasarkan pada kemauannya melakukan “gambling” dalam tahapan explorasi. Nah sekarang kalau ada kontrak PSC tanpa melalui tahap Eksplorasi apakah masih pantas memperoleh Cost Recovery, contoh paling aktual adalah : kontraktor Joint Operating Cepu (award Sept’ 2005, award bukan dari Migas) yang notabene gak melakukan eksplorasi”.

    Saya jelaskan bahwa tidak ada “reward” untuk cost recovery dalam ketentuan PSC Indonesia, apalagi dihubungkan dengan “gambling”. Tulisan pak RDP sangat benar sekali. Contoh lain yang paling bagus adalah Lapangan Tangguh di Irian Jaya (Papua). Sebelumnya sudah ada 2 perusahaan PSC lain (tidak perlu disebut nama) yang melakukan pengeboran di sana, keduanya gagal. Sesuai dengan peraturan PSC, apabila sekian tahun tidak menemukan hydrokarbon (dengan berbagai sebab a.l. kehabisan modal), maka harus direlinquish. Nah, dari “teori kemungkinan” dengan nilai probilitas yang tetap pada suatu kasus “gambling” yang sama, maka semakin banyak orang lain gagal yang berikutnya akan semakin besar kemungkinan untuk mendapat hasil. Ternyata Pada PSC yang ketiga mendapat cadangan hidrokarbon raksasa, melebihi cadangan Arun.

    Dari beberapa kasus tersebut, termasuk kasus Cepu, biaya akuisisi wilayah kerja dari suatu PSC kepada PSC lain, TIDAK BOLEH dimasukkan dalan “sunk cost”, artinya tidak masuk dalam “cost recovery”. Biaya-biaya yang timbul setelah penandatangan PSC baru dapat dimasukkan menjadi “cost recovery”. Dalam PSC Indonesia biaya-biaya eksplorasi ada yang menjadi “Expence” ada juga “Capital” (dikembalikan dalam bentuk depresiasi.

    Cost recovery bukan “upah” yang dibayar oleh pemerintah kepada PSC sebagai “reward”, tetapi pengembalian biaya yang telah dikeluarkan oleh PSC. Biaya-biaya ini termasuk gaji pegawai, sewa kantor, sewa rig (yang mungkin punya nasional), Community Development (untuk pembangunan daerah sekitar). Jadi apabila dia antara bangsa kita banyak yg ikut bermain dalam com dev, misalnya, tentunya akan makin membengkak cost recovery tersebut.

    Salam, –ksw–

  3. On 3/23/06, Rusdinadar Sigit [email protected] wrote:

    Wah ikut seneng ada kawan yang tertarik tentang Libya dan Nigeria..

    Tapi setau saya Nigeria kondisi bisnis penjualan block banyak dikontrol oleh kroni (pejabat/ militer) setempat. Hal ini yang membuat big corporation sangat hati-hati terutama apabila dilihat dari segi ke-ekonomiannya. Beberapa bulan lalu CNOC mungumumkan pembelian block baru, yang notabene block tersebut adalah milik Defense Minister.

    Selain itu Signature bonus di Nigeria juga gila-gila-an…terakhir adalah KNOC yang membayar sekitar USD350 juta. Rata2 sekitar USD150-250 juta. Perusahaan pemerintah seperti ONGC. CNOC, KNOC, karena nggak masuk dalam bursa saham, mereka berani main gila di Nigeria. Untuk mendapatkan bisnis bahkan seperti CNOC, sekarang ber-acting sebagai Second World Bank di Africa (minjamin duit ke pemerintah, sambil minta block yang bagus). Kenapa Petronas nggak punya block di Nigeria?? Gampang saja..karena Petronas nggak segila ketiga perusahaan tadi..

    Jadi mungkin faktor diatas yang membuat perusahaan besar berhati-hati untuk kondisi seperti Nigeria.

    Itu yang saya tahu, mungkin saya salah. Mohon maaf..

    Salam,
    Sigit
    (Calon Warga Nigeria)

  4. on IATMI-KL groups
    [email protected] said :

    Mau nimbrung dikit boleh kan??.

    Kalo tak salah Cepu atawa lapangan Banyu Urip udah ngak dalam exploration phase/stage lagi tapi udah masuk phase development… yang diajukan sekarang sudah POD bukan bidding document dengan komitment wells nya lagi..
    Untuk development well risknya dibawah 1: 2 lahh… SOOO…
    bodoh-bodohannya saja exxon ngak punya risk kok .. barangnya udah
    jelas..model banyu urip “banyu urip play concept”..udah dipakai oil-oil
    company di jakarta untuk analog model untuk mengevaluasi/ngebid ne madura
    block /kujung formation tahun 2004….

    Kalo mau sebenarnya dengan modal priliminary stoiip dan recoverable
    reserves + POD and sedikit economic indikator (NPV, DPI, ROR)….. bejibun tuh bank-bank/investor yang mau membiayai… ini bukan persoalan investasi dan permodalan besar lagii… tapi udah masuk domain politik … Kita maksudnya bangsa kita tercinta… suka ngak suka udah masuk perangkap…., kebanyakan utang, untuk menggeliatpun udah susah, apalagi ditambah dengan
    para elite yang hanya teriakannya saja yang nasionalis tapi tindakannya
    menjual kekayaan negara sampe habis…ngak punya nyali digertak dikit saja ama madam Rice dan para cecunguknya udah pada pucat pasii dan mencret… hee..heee….

    Kata denmas Supri bangsa kita beraninya hanya ama anak bangsanya sendiri.. dicekek, diperas.. dan dipersulit semua uruan… tapi kalo udah sampai ke urusan internasional… munduk-munduk .. duduk manis diam. dan ngak
    kedengaran suaranya…heee…heee… Orang kita itu paling ramah dan paling hormat dan paling deman looo ama wong londoo… atau mat saleh cakap mamat malay…… .Lihat aja artis kita … kalo ama yang namanya bulee.. pengannguran pun diembat…hee hee.. coba iseng-iseng distatistik budah berapa banyak sih artis kita yang kawin ama bulee… bahkan ama wong vietnam pun ada satu.. tamara temannya edwin..

    Untuk bidding new block trendnya sekarang justru kebalik… para pemain besar IOC, seperti kawan kita exxon justru lebih konservatif..
    hati-hati.. beda ama yang kelas menengah kebawah plus NOC kali yaa lebih aggresiff….. buktinya di Lybia/nigeria para pembesar pada habis dilibas pemain kacangan+ NOC… di Indosia last bid round… anadarco ama petronas menghajar teruk para pesaingnya caltex, copi and total di Nemo3 dan nemo 4…. Exxxon seperti halnya Caltex bukan bidder yang berani kok di indonesia…..
    Sooo apa yaaa…hanya sekadar nambahin komentarnya bung rdp laaah…. ternyata persamaannya ngak selalu linier…

    sfd

  5. Kalau dilihat lebih dekat, sukses rasio 1:10 ini berlaku untuk
    rata-rata satu cekungan di Indonesia. Artinya dalam satu cekungan akan
    memilki 1:10, namun kalau dua atau tiga cekungan dikerjakan sekaligus jelas memerlukan sumur lebih banyak lagi.
    Shell mungkin melakukan pengeboran tetapi dua sumur untuk masing2
    cekungan. Sehingga “local geological knowledge”-nya belum optimal untuk masing2 cekungan.

    Dengan demikian kalau Shell mengambil 5 daerah dengan masing2 daerah
    di bor 3 kali saja, itu bisa jadi namanya “gambling bin judi”, walaupun mengebor 15 sumur. Kalau mengebor 10 sumur namun di daerah yg sama, dimana sumur berikutnya merupakan hasil “belajar dari” kegagaan sumur2 sebelumnya, menurut saya bukanlah judi.

    Nah Pak Sulis …. saya yakin Exxon akan nge”bid” satu blok dengan jumlah sumur komitment cukup banyak. Dengan demikian Exxon memiliki chance lebih besar utk mempelajari kondisi geologi daerah tersebut.
    Kalau saja 1:10 itu adalah hasil random, maka dengan mengharapkan knowledge katakanlah akan membantu dengan mengurangi 2 sumur gagal, akhirnya mengebor 8 sumurpun sudah akan sangat mungkin mendapatkan
    kemungkinan sukses. Nah apakah bisa mengharapkan geologist mengurangi
    risiko gagal hingga 8 sumur sehingga komitmen 2 sumur supaya menjadi bukan judi ?

    Jadi menyebar sumur-sumur dibeberapa daerah bisa saja menjadi ‘gambling” juga akhirnya. Sedangkan berkonsentrasi bekerja di daerah
    tertentu dengan kesabaran (persistent) sambil “belajar dari kesalahan” bukanlah judi.

    just my opinion, Wallahualam…..

    rdp

    FYI :
    angka 1:10 ini hanyalah gambaran saja. Ada daerah yg memiliki sejarah
    sukses lebih bagus dari rasio itu ada juga yag lebih rendah.

  6. — In [email protected], [email protected]… wrote:

    Menanggapi Pak RDP, saya ingin menyampaikan fakta usaha migas sebelumnya tentang upaya Shell mencari migas dizaman PSC yang dulu.Shell mengambil beberapa Blok WKP seperti Memberamo, Podena (Irian), Sangkulirang, Runtu, Mahakam/Muara Kaman, Kalimantan Selatan (Kalimantan) dan ber JOB di
    Jawa di Blok Gundih (Jawa Tengah).
    Saya kira Shell sebagai salah satu dari seven sisters, tentu tidak diragukan lagi mengenai kekuatan keuangannnya, teknologinya, profesionalisme orang2nya. Tapi selama kurang lebih 20 tahun melakukan eksplorasi Shell tidak mendapatkan setetes minyakpun.
    Berjudi atau tidakkah Shell dalam hal ini ?

    Salam….SLS

  7. Sebenernya kalau dilihat bahwa modal besar yg diperlukan. Maka
    sepertinya justru Exxon tidak melakukan judi. Kalau menggunakan
    analogi yg saya pakai dengan modal 100juta dolar minimal, utk 10 sumur
    dengan probabilitas 1:10, maka karena modalnya “suangat buesaar”, maka hanya Exxon yg mampu melakukan pengeboran sejumlah 10 sumur. Artinya bagi Exxon justru bukan judi. Karena dialah yg mampu melakukan hingga mengebor 10 sumur.
    Seandainya data statistik itu menunjukkan bahwa sumur discovery baru muncul pada sumur ke 8 atau ke 9 (setelah “belajar dari kesalahan”
    sebelumnya tentunya), maka yg memiliki modal 7-8 sumur pasti akan
    “keder” utk melanjutkan eksplorasi kan ?. Disinilah perlunya “farm
    ou”t atau “partnering” utk “sharing risk”.

    Kumpeni2 kecil lainnya hanya melakukan hingga 3 atau paling banter 6, dimana kalau secara mudahnya maka ngebor yg berikutnya menjadi semakin “takut”. Karena kalao modalnya hanya 6 sumur dan masih belum “beruntung” (discovery), maka dia akan angkat kaki.

    Nah sayangnya ketika sudah mencapai sumur ke 6 ini, pengetahuan
    geologinya sebenernya sudah “mintip-mintip” (hampir bener tebakannya). Namun kurang modal. Dan ketika berganti operator baru maka pengetahuan yg “mintip-mintip” ini akan reset ke belakang lagi. Inilah perlunya pemodal besar dan persistent (tidak mudah putus asa).

    Disinilah si modal kecil pasti akan “untung2-an” (terkesan berjudi) pada pengeboran 3-4 sumur saja. Sedang si modal gede tidak berjudi sama sekali, karena secara probabilitas sudah “pasti akan dapat” discovery pada sumur ke sepuluh (asumsinya statistik 1:10 adalah kebenaran hakiki).

    Nah coba deh lihat berapa jumlah committment sumur menjadi andalan
    pengajuan “bid”ingnya Exxon di blok yg ditawarkan di Indonesia? Aku yakin pasti paling besar (paling banyak), karena kalau statistik itu
    benar (1:10) semakin banyak sumur kemungkinan dapetnya semakin besar
    juga kan ?

    Bagi perusahaan kecil itu bisa “gambling”, bagi perusahaan raksasa “I am just doing a bussiness”.
    Its sorrow and sorry mas Ariadi, we are living in the “capital world”.
    Who have capital, he is the winner …
    opo ora nyebahi iku, aku mung iso misuh2 …. kampret tenan !!!

    RDP

  8. n 3/23/06, Ariadi Subandrio [email protected]… wrote:
    Pak Vicky,
    Dalam sejarah PSC Indonesia, yang “terakhir” mau menerima konsep PSC sebagai implementasi dari bisnis migas yang bersifat “judi” adalah Exxon yang notabene adalah sang raksasa Seven Sisters dengan mengambil blok Natuna, itu pun
    split-nya khusus (barangkali Abah bisa cerita banyak untuk hal ini). Para pemula-nya justru IIAPCO, Arco yang saat itu boleh di bilang mid class oil company. Jadi “judi” atau “tak judi” dalam premis yang anda sampaikan rasanya gak begitu laku di beberapa raksasa pemilik modal. Exxon mau ambil natuna juga
    setelah melihat MOBIL sukses di Arun.

    Dalam konteks PSC Indonesia, reward untuk Cost Recovery adalah didasarkan pada kemauannya melakukan “gambling” dalam tahapan explorasi. Nah sekarang kalau ada kontrak PSC tanpa melalui tahap Eksplorasi apakah masih pantas memperoleh
    Cost Recovery, contoh paling aktual adalah : kontraktor Joint Operating Cepu (award Sept’ 2005, award bukan dari Migas) yang notabene gak melakukan eksplorasi.

    Pertanyaan besarnya adalah pada BPMigas yang kelak akan melakukan kontrol (manajemen) pada semua kontraktor PSC, dapatkah tidak mengakomodasi biaya pra PSC (TAC) pada JO Cepu ?, Mengingat kontrak PSC-nya kan baru 6 bulanan lalu dan
    tanpa ada aktifitas eksplorasi sebab (yang melakukan eksplorasi adalah TAC, dulu Humpus kemudian Ampolex/Mobil/ExxonMobil)? apalgi kalau sunk cost nya juga mengklaim biaya pembelian ineterest pd Humpuss, masak di reward dengan cost
    recovery sih?

    lam-salam,
    ar-.

Leave a Reply