Peringatan dini tsunami buat siapa ?

2

Devastating waves can now be detected in the Indian Ocean.© NOAABarusan baca di blognya Agus Setyawan tentang peringatan dini tsunami (tsunamic early warning system) yg tulisan aslinya ada di Nature. Cukup menarik terutama buatku yg sejak awal sudah kurang berminat karena tidak memberikan banyak manfaat buat Indonesia. Walopun tidak dipungkiri ini lebih bermanfaat untuk negara-negara lain di sekitar Samodra Hindia.

Memang sama seperti dugaanku akan banyak orang Indonesia yg akan sedikit mengeluh dan akan segera sadar bahwa early warning sistem di Sumatra ini tidak banyak untuk menyelamatkan warga di sekitar pantai barat Sumatra. Karena memang lokasinya sangat dekat dengan sumber tsunami juga kekurangan media untuk mendistribusikan informasi ini secara tepat.

Penjalaran GempaBahkan kalau ingin lebih detil lagi kita tengok penjalaran gelombang gempa Aceh 24 Dec 2004 lalu. Adanya gempa di Sumatra ini baru akan diketahui oleh badan pengamat geofisika baik BMG maupun USGS atau EMSC dll dalam waktu kurang lebih 5-10 menit setelah terjadinya gempa. Kalau saja untuk menentukan kemungkinan ada dan tidaknya tsunami yg terjadi, perlu 5 menit saja. Maka waktu yg diperlukan untuk mengetahui adanya tsunami diperlukan waktu 20 menit.

Kalau saja jarak antara daerah gempa (sepanjang Patahan Mentawai) ke pesisir barat pantai Sumatra hanya sekitar 200 Km, sedang kecepatan gelombang tsunami 800 Km/jam. Maka tsunami hanya memerlukan waktu 15 menit untuk sampai pesisir barat Sumatra.

Nah kalau saja waktu yg dibutuhkan untuk mengetahui gempa saja 10 menit maka bagi penduduk pesisir barat Sumatra sisa waktu yang hanya 5 menit jelas tidak dapat dipakai buat apa saja. Bahkan kalau terjadi sepertinya hanya berdoa saja ;(

Namun jelas bukan berarti tidak berguna sama sekali. Early warning ini lebih ditujukan buat yang di Jakarta. Jadi kalau toh buat orang Indonesia terutama buat yg di Jakarta supaya cepet tanggap akalau ada tsunami. Misal BASARNAS, Dinas Soksial, trus juga buat laskar2an dan partai-partai politik untuk secepatnya bikin posko !

2 COMMENTS

  1. […] Memasang seismometer di pinggir pantai ini mungkin merupakan cara terampuh. Dengan menggunakan “cut-off” gempa minimal 7 Mw sebagai pembunyi alarm mungkin akan sangat berguna. Alarm ini dapat diteruskan penyebarannya dengan metode tradisional penyebaran info lewat kentongan, teriakan masjid, klenteng gereja, dengan nada serta irama khusus mungkin akan bermanfaat. Hanya saja getaran-getaran yg bersumber didarat juga kan memberikan alarm yang sama, yng mungkin terkesan “mengecoh”. Namun kalau dilihat secara positip, pengecohan ini bisa dianggap sebagai “tsunamic drill” atau latihan tak terduga. Aku rasa diperlukan ide-ide lain untuk lebih memberikan arti kepada Indonesia. Pemasangan “Bouyancy” seperti yang pernah saya tulis disini, sebagai pengukur gelombang tsunami, seperti yg dipasang di Samodra pacific dan atlantic, mungkin tidak cukup untuk warga pantai selatan Jawa Sumatra. Bouyancy yg dipasang diu Indian Ocean tentunya sangat berguna bila ada tsunami besar seperti yg terjadi di Aceh tahun 2004. Early warning yang ini sangat diperlukan oleh pesisir di sekeliling Indian Ocean. […]

  2. […] sistem peringatan dini tsunami (Tsunami early warning) sudah dipasang beritanya juga sudah aku kasih komentar disini sebulan yang lalu. Ah, apa Pak Kusmayanto ndak membaca ya ? Atau asisten (pembisik) beliau yg kuper ? “Kalau sistem peringatan dini di tiga samudera ini kita gabungkan, maka jika terjadi satu bencana alam besar di satu tempat akan segera diketahui di tempat lain,” ungkap Menristek Kusmayanto Kadiman ketika mengadakan kunjungan kerja selama empat hari yang berakhir Jumat (Sabtu WIB) di Washington DC, AS. […]

Leave a Reply