Glung – Bleg, dan Danau Bantul di Jogja !

11

GelombangGempa JogjaFenomena bunyi glung dan bleg yang terdengar di Imogiri ini emang aneh. Lah namanya juga Jogeja kalau ndak ada yg berbau mistik bukan berita lah yaw. Yang lucunya lagi bunyi ini katanya terdengar berbunyi glung sebelum gempa dan berbunyi bleg setelah gempa.

Nah ini dia ….. menurut seorang dosen di Jogeja, yg dilansir sebuah harian di Jogja, suara “glung” karena “growong” (ada lubang kosong), trus sekarang berbunyi “bleg” karena sudah terisi sewaktu gempa.
Kayaknya sih nalarnya bagus kan ? Tapi …
Duh piye apa iya “warna suara” bunyi yg diucapkan dipakai sebagai bahan acuan ilmiah ya ?
Lah wong suara “jago kluruk” saja beda-beda suaranya je. Coba tanya sama orang Sunda gimana bunyi jago berkokok ? “Kongkorongoook” !, trus ada yg bilang “Or ok ok ok !“. Trus tanya bule yang sliweran lewat itu, cock-a-doodle-doo tanya aja gimana suara pistol “Bang … Bang … !“, namun anda bilang “Dor !” ada yang “Tar !!”. Ini membuktikan bahwa jenis suara yang didengar kemudian ditirukan manusia suara tidak dapat dipakai secara ilmiah menjelaskan gejala alam dengan sederhana begitu.

Iya ndak, sih ?

Penjelasan lain yg dilakukan oleh Staff Geologi UGM ada yang lebih logis, lah iya wong sesuai dengan geo-logis. Bahwa suara itu barangkali proses stabilisasi dari batuan yg sempat tergerak mendadak ketika gempa. gerak-gerak stabilisasi ini yg menimbulkan suara dan menyebabkan getaran aftershock. Jadi kalau disesuaikan dengan logika teori gempa yang lain, bahwa gempa merupakan sebuah elastic rebound atau pelentingan hal ini sepertinya ok saja. Dijelaskan juga bahwa adanya suara-suara setelah gempa itu hanya ada di Jogeja.

Kayaknya emang Jogeja itu seperti dunia lain yang selalu ada “penampakan” aneh dan misterius ya.

Penjelasan Irwan Meilano kawan saya yang sedang ambil Post-Doc tentang gempa di Nagoya Jepang menjelaskan dengan teori gelombang begini katanya,

High-frek P-wave apabila sangat dangkal akan menghasilkan suara yg bisa kita dengar langsung (kalo dilaut disebut juga T-wave (acoustic wave)). Sesudah high-frek P-wave yg amplitude-nya sangat kecil, baru low-fre P-nya datang dan terasa goyangan..dan sesudah itu baru S-wave yg lebih bergetar.

Kemungkinan gempa susulan yg banyak di imogiri sangat dangkal dan terdengar jelas apabila kita berada cukup dekat dengan sumber.

Alhamdulillah sekali saya pernah mendengar gelombang ini sewaktu survey di suatu wilayah sesudah gempa di jepang. Terdengar seperti suara yg berat dan sedikit bergema. gluunggg……

Nah, penjelasa Irwan ini ngilmiah banget ya, lah wong dia itu Doktor pergempaan je. Nah gelombang gempa yg ‘ditangkap” Irwan di gunung kidul kemarin seperti diatas itu.

Tapi kata-kata Irwan masih pakai bahasa dewa ya hihihi … mudahnya gimana ya ?
OK gini aja, gempa itu kan seperti gelombang juga seperti yg sudah saya gambarkan sebelumnya disini tentang tanda-tangan gempa. Gelombang-gelombang getaran gempa ini memilki rentang frekuensi yag berbeda-beda. Seperti juga suara yg kita dengar yg terdiri dari gelombang berbagai frekuensi. Suara dengan frekuensi rendah yg kalau di speaker itu terdengan nge”bass” yg menggetarkan dada dan bisa kedengeran dari jauh “Dug … jedug“, dan ada juga suara frekuensi tinggi yang terdengar “kencring-kencring” (“trebble“) yg bikin pekak telinga, namun tidak jauh.

Demikian juga dengan gelombang gempa. Gempa memiliki gelombang frekuensi rendah yg mampu menggetarkan dan menjalar jauuuuh, tapi saking rendahnya getaran ini tidak mampu didengarkan telinga. Nah, pada gelombang gempa ada juga frekuensi tingginya sehingga terdengar kuping manusia. Walopun termasuk frekuensi tinggi untuk ukuran gelombang gempa, getaran ini termasuk frekuensi rendah yang bisa saja terdengar glung atau bleg. Nah glung atau blung atau bleg, ini sudah sangat subjektif tidak bisa dipakai sebagai acuan.

Jadi bukan berarti glung masih kosong dan bleg sudah terisi kan ?
Jadi kalau gitu munculnya danau di Bantul sangat tidak beralasan ?
Yep, Pembentukan danau di bantul akibat gempa di Opak ini tidaklah beralasan.

Pembentukan danau akibat patahan ?

Jadi patahan tidak dapat membentuk danau ? … upst tunggu dulu !
Patahan dapat membentuk danau, contohnya di Danau Ranau dan Danau Singkarak di Sumatra. Kedua danau ini dibentuk oleh adanya sesar atau patahan geser Sumatra, atau yg sering disebut Sesar Semangko. Patahan yang panjangnya ratusan kilo meter membelah sepanjang Pulau Sumatra ini telah membentuk sesar semangko. Kedalaman danau Singkarak ini 268 m. Bayangkan saja, kedalaman laut Jawa saja kurang dari seratus meter. Jadi patahan emang dapat membentuk danau yag suangat dalam. Bahkan bisa disebut laut dalam, lah wong laut dalam itu kedalamannya dita 200 meter, sedang danau singkarak ini 268 meter !!.

Taaaaaapiiii

Nah … jangan takut dulu lah yaw …. seperti yang sudah saya tuliskan tentang patahan-patahan di Jawa bahwa pembentukan patahan Sumatra ini sudah sejak jutaan tahun yang lalu. Oke lah anggap saja terjadi sejak sejuta tahun yang lalu maka kalau toh terjadi danau di mBantul maka akan terbentuk setelah sejuta tahun lagi …. walaaah ngapain takuut booo !. Anak cucu kita masih bisa menyelamatkan diri lah yaw. Nyante aja lah !


Jadi memang benar ada danau yg dibentuk oleh patahan, memang benar patahan dapat membuat danau. Hanya saja tidak terjadi serta merta “mak blung !”.

11 COMMENTS

  1. maaf sebelumnya mo nimbrung sedikit masalah terdengarnya suara bledug di wilayah imogiri, yogyakarta itu. pernah dilakukan penelitian menggunakan metode VLF kedalaman sumber bunyi diperkirakan lebih dari 2km namun itu hasilnya nihil……… Saya pernah mengikuti seminar dari peneliti jakarta dan peneliti jepang maaf saya lupa namanya…. mereka mengatakan harus diadakan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan metode microgravity dan metode csamt untuk mengetahui sumber bunyi tersebut apakah ada rongga bumi di bawah daerah wilayah imogiri tersebut.

    sekian terima kasih……
    inkjiwo

  2. Masya Allah!!!emang sempurna banget tuhan kita ini!!nyiptain misteri yang ga ada abisnya buat manusia.biar kita selalu ada kerjaan kali yahh??
    makasi ya buat yang udah nyempati waktunya untuk kasi informasi ke kita2 yang pengen tau tapi males buat skul di fak.geologi duluu…

    tetep semangat berbagi pengetahuan..
    chayoo!!!

  3. wah bisa dipake tuk konser donk, tinggal undang para musisi and gdirikan panggung kita buat konser musics/. tul ga its call “BACK TO NATURE”

  4. menurut saya sih itu tergantung apakah si dosen ini mendengar sendiri suara tersebut atau mendapat informasi dari orang lain. kalo dia mendengar sendiri ya boleh lagi kita hargai sedikit tapi kalo cuma dapat info dari orang lain bahwa suaranya adalah glung & bleg terus bikin analisa berdasarkan itu ya ancur banget 🙁

  5. wah, comment isinya trackback sendiri hi…hi..hi…
    Jangan2 yang saya denger setiap gempa susulan ( di Jogja ) ya ini. Soalnya sebelum gempa susslan ada suara dentuman trus goyang deh. Tapi yang denger cuman saya aja orang serumah ditanya ga ada yang denger. aneh :-/

  6. lha kalo yang terjadi di maluku itu gimana pak? ada bukit yang tiba-tiba ambleg dan menjadi danau. apa hal tsb tidak mungkin terjadi di bantul?

  7. […] Yang pertama seperti saya jelaskan dengan fenomena Glung-Bleg di Jogja kemarin itu, yaitu adanya getaran frekuensi tinggi.  High-frek P-wave apabila sangat dangkal akan menghasilkan suara yg bisa kita dengar lansung (kalo dilaut disebut juga T-wave (acoustic wave)). Sesudah high-frek P-wave yg amplitude-nya sangat kecil, baru low-frek P-nya datang dan terasa goyangan. Dan sesudah itu baru S-wave yg lebih bergetar. […]

  8. […] Aurora Bukan Api ! Dentuman itu bukan ledakan ! Mengapa ada swara ‘jlegurr‘? Suara “jlegurr” ini barangkali swara air yg ‘bertepuk‘, seperti waktu kita kecil dulu kalau di kolam renang seneng sekali membuat suara dengan menekan air kebawah sehingga berbunyi “plung-plak-plung ..” Tentunya swara yg kuhasilkan hanya terdengar dekat wong tanganku kecil … Nah kalau ukurannya besar, dengan dislokasi patahan vertikal 5 meter panjang berpuluh kilometer tentunya swaranya membahana … “JLEGURRR !!!”. Kalau jarak sumber gempa dekat dengan telinga kita maka akan terdengar suara yg aku jelaskan tentang swara yg terdengar Glung dan Bleg disini sebelumnya. Mekanisme glun- bleg ini berbeda dengan jlegurrnya suara “tepukan air”. […]

  9. Pascagempa, Tak Mungkin Yogyakarta Ambles
    Yogyakarta, CyberNews. Berdasarkan retakan-retakan yang terbentuk pada pascagempa yang terjadi tanggal 27/5 lalu, tidak ditemukan retakan yang merupakan patahan vertikal yang baru.

    Patahan yang terjadi merupakan patahan lama yang bergeser kembali ke arah lateral, tidak ada unsur gerak vertikal, sehingga tidak mungkin mengakibatkan Yogyakarta ambles.

    Hal itu merupakan analisis yang dilakukan oleh Tim Geologi UGM, Tim Teknik Sipil UGM, Tim Geofisika UGM dan Kepala Kantor Badan Meteorologi dan Geofisika Yogyakarta, di wilayah Kecamatan Parangtritis, Panggang, Kretek, Pundong, Imogiri, Jetis, Berbah, Pleret, Piyungan, Prambanan dan Gantiwarno.

    Hasil analisis tersebut kemudian dibeberkan oleh Ketua Jurusan Teknik Geologi UGM, Dr Ir Dwikorita Karnawati MSc, kepada wartawan anggota Fortakgama di kampus UGM Bulaksumur, Yogyakarta.

    Sedangkan adanya kekhawatiran di bawah permukaan ada sungai-sungai/gua bawah tanah yang ambrol dan menimbulkan bunyi dentuman ”glung”, menurut Dwikorita, kekhawatiran itu tidak logis berdasarkan ilmu geologi dan mekanika batuan.

    Suara tersebut terjadi bukan karena ambrolnya rongga/gua/sungai bawah tanah, namun lebih mungkin karena adanya gas-gas yang terlepas saat terjadi getaran gempa susulan. Proses pelepasan gas-gas itu hanya terjadi lokal-lokal yang tersebar di beberapa tempat, dan tidak akan mampu mengambrolkan atau mengambleskan tanah permukaan yang berada lebih dari 50 meter di atasnya.

    ”Selain itu, suara glung dapat pula berasal dari blok-blok batuan yang mengalami proses penstabilan kembali setelah terjadi gempa yang lalu,” tuturnya.

    Dikatakan pula oleh Ketua Tim Geologi UGM itu, jadi fenomena suara glung yang sering terdengar sesaat sebelum gempa susulan terjadi, tidak dapat dianggap sebagai tanda tanah atau permukaan bumi akan ambles atau tenggelam membentuk danau.

    Masih menurut Dwikorita, setelah gempa juga banyak diketemukan retakan-retakan tanah namun hanya bersifat lokal dan tidak ada yang menerus panjang hingga beberapa kilometer.

    Retakan itu terjadi karena adanya getaran gempa yang merobek kulit atau permukaan tanah (bersifat lokal dan tidak dalam), serta adanya gangguan kestabilan lereng tanah/batuan saat digoncang oleh gempa.

    Dikatakan bahwa retakan jenis kedua itu umumnya terjadi pada lahan miring atau lahan dekat tebing/lereng, atau di sepanjang tebing bantaran sungai, dan mengakibatkan longsor berupa runtuhan atau luncuran bantuan/tanah.

    Pada dan di sekitar zona yang longsor, umumnya terjadi amblesan beberapa centimeter hingga 2 meter. Amblesan yang terbesar adalah sekitar 2 meter dijumpai di Dusun Sengir, Kalurahan Sumberharjo, Kecamatan Prambanan.

    Namun secara umum amblesan atau penurunan muka tanah hanya terjadi kurang dari 10 centimeter. Lebar longsor-longsor yang dijumpai kebanyakan kurang dari 10 centimeter, tetapi longsor yang cukup besar terjadi di halaman Gua Cerme.

    ”Lebar longsoran di tempat tersebut mencapai 50 meter, dengan jarak luncur 100 meter, pada tebing dengan ketinggian 70 meter dan kemiringan 60 derajat,” tambah Dr Ir Dwikorita Karnawati MSc.
    ( bambang ujianto/cn09 )

Leave a Reply