Ada apa dengan mud flow di Jawa Timur ini ?

15

Banyak yg bertanya-tanya apa sebenarnya terjadi.
Saya mencoba menjelaskan apa yg terjadi (bukan penyebab bisa terjadi) berdasarkan atas data-data yg diketemukan dari Mailist serta publikasi-puiblikasi yang ada.

Gambar satu dibawah memperlihat penampang dari Porong Reef (modifkasi dari Kusumastuti, 2002). Terlihat disitu proyeksi dari sumur Porong-1. Coba perhatikan :
– Patahan yg memotong puncak dari batugamping Formasi Kujung
– Indikasi SLUMP (kemungkinan menunjukkan mobile shale)
– Collapse zone (indikasi pernah terjadinya colapse didaerah ini pada masa lampau)

Dari paper ilmiah yg dipublikasikan AAPG (American Association of Petroleum Geologist) dan ditulis oleh Arse Kusumastuti tahun 2002 ini diketahui bahwa adanya colapse pada masa lampau.

Pada saat operasi terjadi liquifaction (pencairan) atau seperti agar-agar yg dihentakkan secara mendadak sehingga mecotot keluar. Pada kondisi stabil mobile shale (mobile clay) ini seperti tanah lempung yg sering kita lihat dipermukaan yg sangat liat. Namun ketika kondisi dinamis (karena mengalir) maka percampuran dengan air bawah tanah menjadikan lempung ini seperti bubur.

Gambar 2 memeprlihatkan Sumur Banjar Panji-1 dilokasi yg berdekatan dengan Porong-1. Harap diketahui bahwa BP-1 tidak berada persis dalam line seismic ini. Namun untuk mempermudah saya gambarkan terproyeksi ke seismic yg ada. Kedalaman sumur ini sudah 9200 feet atau secara verikal mungkin sekitar 3.5 Km.

Dari hasil diskusi di beberapa mailist serta informasi di media, diketahui bahwa yg keluar saat ini adalah lumpur dengan material yg berasal dari formasi berumur Pliosen. Analisis nannofosil di lumpur menunjukkan umur sekitar Pliosen – sama dengan kandungan fosil di kedalaman 2000-6000 ft di sumur tersebut, ppm cloride sekitar 10.000, lumpur mengandung material volkanik, di awal2 semburan lumpur mengeluarkan gas H2S, temperatur lumpur sekitar 40-50 deg C.

Mud volkano ini bisa melalui crack (patahan) yang sudah ada dapat juga melalui pinggiran sumur dengan membentuk crack/fracture yang baru. Keduanya akan menyebabkan kejadian yang sama yaitu keluarnya lumpur.

Sumur hijau menunjukkan bagaimana kemungkinan atau salah satu cara menghentikan luapan dari lumpur yg mobile dibawah ini. Caranya salahsatunya dengan mempompakan lumpur dengan berat jenis tinggi sehingga lumpur dibawah tidak kuat lagi “menendang” (flowing) ke atas.

Mekanisme mudvolkano ini mirip yg ada di Bledug Kuwu juga di Sangiran dome seperti yg digambarkan disebelah ini.
Dengan debit luapan lumpur mencapai 5000 meterkubik sehari dapat dipastikan yg keluar saat ini sudah bukan lumpur pemboran. Pencemaran alamiah seperti ini yg perlu dicegah.

— tambahan —

Peta serta korelasi penampang sumur2 yg menembus batuan2 yg mirip dengan yg ditembus di BD-Ridge.

15 COMMENTS

  1. pak de,,
    mau nanya lagi nggehh,..

    di bleduk kuwu ada pengaruh sesar apa y? langung masih searah g sama sesar watu kosek??
    pernah dengar disana terdapat salt dome apakah benar itu ada hubungan dengan sangiran dome?

    matur nuwun

  2. Yang dianalogikan oleh mBah Brata ini adalah sumber tekanan lithostatic, atau tekanan beban dari batuan diatasnya…. ntah model agar-agar, ntah model bubur ataupub air lumpur maezena atau jenang dodol bahkan bisa saja seperti odol. Model lithostatic pressure ini ada disini :
    http://rovicky.wordpress.com/2007/05/20/sumber-tekanan-lusi/

    Nah yang lebih penting diketahui kalau berbicara penyebab adalah apakah gempa jogja mampu memecah, ataukah ada gempa lain di deket sidoarjo.
    Kalau memang ini satu-satunya alternatif proses yang terjadi tentusaja, tidak mungkin (sangat suuulitt) menahan besarnya tekanan. Salah satu cara ya menghindari mirip seperti proses gunung api saja. harus pinter menghindar dan meramalkan apa yg bakalan terjadi selanjutnya. tetapi teori ini jelas sulit menjelaskan darimana air sebanyak yg keluar sekarang ini yg porsinya hampir 70%.

    Tetapi masih ada (paling tidak) 3 sumber tekanan lain yg harus dipikirkan untuk dikethui dan kalau mungkin dikendalikan.

  3. mbah Brata & pak Dhe, agar-agar itu kenyal seperti karet penghapus dan cenderung plastis(tidak dapat mulur/elastis),jadi tidak bisa mecothot, kalau jelly agak lunak dan elastis, tapi untuk mecothot ya sulit .Yang bisa mecothot antara lain bubur maizena, bubur sumsum (dari beras),bubur gandum, bubur hunkwe (kacang hijau), jenang monte,jenang dlimo, bubur menado dan bubur nasi(bubur ayam).

  4. nanggapi yang komentar masalah “agar- agar”….
    kita misalkan aja agar- agar itu berada dalam suatu tempat (wadah seperti mangkok terbalik, yang beratnya kita skelekan dengan lapisan tanah sebenarnya) tertutup rapat, namun pada daerah di atas agar- agar tersebut retak/ berlubang dan di sekeliling agar- agar itu berupa semacam emulsi yang tidak stabil. maka ketika ada goncangan, yang mampu untuk meruntuhkan lapisan emulsi itu secara otomatis wadah (mangkok) tadi akan turun dan menekan agar- agar kita… mengingat disekeliling tempat itu yang satu- satunya jalan untuk meloloskan diri hanya ke atas (ke arah rekahan/ lobang yang sudah tersedia tadi, hal yang akan kita temukan adalah agar- agar itu “muncrat” dari tutup wadah tadi….

    yaaahh… ikut urun rembug aja sih…
    salam persatuan, jangan sampai lumpur ini menjadi pemecah kita, tapi justru sebagai pemersatu masyarakat kita. dan saya yakin diluar forum ini kasih banyak orang yang punya pikiran cemerlang tentang pemecahan masalah ini.

    the last…
    salah satu hal yang kita butuhkan sekarang adalah saling percaya dan bertukar pikiran.
    thanks.

  5. Buat para peneliti dan para komentator kita ….
    hanya sedikit saran dari saya yang kurang mengerti tentang seluk beluk pengeboran serta geologi….

    apa bisa… lumpur yang menggenang tersebut bisa dikeraskan ?
    misalnya saja dengan pemakaian katalis atau sejenisnya begitu…
    kalau memang masih ada kemungkinan untuk dilakukannya hal tersebut, saya yakin para pakar~pakar di bidang tersebut dapat menghitung rumusannya…

    hanya sekedar saran dengan berfikir logis

  6. Vick :
    Apa iya sih “ager-ager” raksasa itu itu bisa mencair karena kena shock gempa yang hanya 2-3 MMI ??. Sepotong ager-ager beneran di dalam wadah saja perlu guncangan hebat dan lama untuk berubah menjadi cair. Lagian kalau sudah cair benarkah dia punya tekanan yg demikian besar untuk nerobos keluar ??. Kalau memang theory itu yang dianut, berarti waktu ngebor melewati lapisan ini, pasti sudah banyak masalah, logisnya begitu.
    Lebih mudah dipahami kalau ager-ager itu ada yang “mendorong” atau “menyemprotkan” keluar. Jadi kayak fenomena orang ngecat, kompresornya dari bawah (KUJUNG atau yg lain), bahan catnya ager-ager itu, unstable shale/clay. Ager-ager itu gak perlu terguncang gempa untuk mencair, cukup diterobos gas dia akan mencair dengan sendirinya.
    Jalan keluarnya semprotan ??, antara rekahan yang memang INSITU atau crack karena kesalahan ngontrol KICK.
    Piye nek ngono ??!!.
    Sayangnya mereka nggak JUJUR saja mengungkap kronologi yang sebenarnya.

  7. colapse feature ini menunjukkan geometrical shape kemungkinan pernah ada colapse (subsidence kecil) oleh ARSE 2002.

    di Porong tdk ada BO ttp mengalami gain
    maupun loss. hanya saja krn csg dipasang diatas atau sebelum kujung ma
    ka komplikasinya tdk separah BP1

  8. Cik RDP,

    1. Berapa kedalaman & tebal lapisan Pliosen ini ?
    2. Apa yg dimaksud dgn collapsed zone tsb ?

    Salam,
    Doddy

  9. Salah satu data yg penting sebelum melakukan pengeboran “relief well” adalah mengetahui sumber kebocoran atau jalannya luapan lumpur ini. Apakah dari sekitar lubang sumur yg mengalami ‘crack’ (rekahan) atau melewati patahan. Kalau sudah dipastikan dari lubang sumur tentunya akan lebih mudah menanganinya.

    Hal yg lebih pentinglagi tentunya “pembelajaran” supaya tidak terjadi lagi dimasa mendatang.

  10. Mas…
    menarik bahwa overpressurenya di atas karbonate…
    Mungkin sama seperti cerita Pak Awang , menghadapi overpressure dulu berhasil ditangani, tapi tidak dicasing dan begitu tembus karbonate yang loss, maka mud yang dipakai untuk menahan overpressure juga hilang dan terjadilah semburan lumpur itu.
    Saya pribadi cenderung mengatakan bahwa lumpur tetap banyak keluar lewat lubang bor..kalau lubang bor berhasil ditutup maka lumpur juga tidak akan / berkurang .
    dalam kasus ini saya kurang yakin bahwa injeksion well akan membantu menghentikan semburan…

  11. Kalau tempat muculnya diketahui mungkin akan ada “clue” (petunjuk). Kalau gempa mentriger dan seperti dugaan awang bahwa liquifaction akibat gempa mungkin tempat muculnya akan mengikuti patahan, dan penyebarannya mengikuti patahan. Namun kalau tempat munculnya mud volkano lebih mendekati lubang pemboran dan acak, barangkali lebih dipicu oleh pemboran.

    Nah sayangnya tidak ada yg memberitahukan ke aku dimana saja posisi lubang-lubang ini. Kalau ada yg mempublikasikannya tentunya akan membantu mengetahui apa penyebab mudvolkano ini.

    Note : btw, ini masih dugaan looh, masih banyak kemungkinan lain yg saya tidak tahu. Data rial selama operasi pengeboran serta data sumur Porong-1 aku pikir akan lebih akurat.

  12. Mas, lalu bagaimana dengan teorinya Pak Awang soal pengaruh gempa Opak yang baru lalu? Kalau nggak salah bukan slump dan liquefaction yang ditrigger oleh pemboran, tapi liquefaction yang ditrigger oleh gempa?

Leave a Reply