Berita email yg membahayakan !

49

Berita email yg mengkawatirkan bila di FW.

” Sekedar isu atau bkn.. ga ada salahnya kalau kita berdoa…Menurut CNN,disiarkan 3 hari yang lalu bahwa lempeng bumi di australia sedang bergerak ke utara menuju asia.diperkirakan bisa bertubrukan dengan lempeng bumi di selatan pulau jawa.Diperkirakan 11 hari setelah gempa jogja, atau rabu besok(7 juni) akan ada gempa dahsyat dan memungkinkan terjadinya tsunami.Mohon doanya n plis forward ke temen-temen laen, jagan sampai putus di tangan kamu…… “

Penjelasan ilmiahnya

Lempeng Australia bergerak mendekati Jawa sudah terjadi sejak 50juta tahun yang lalu. Ya 50 juta tahun yang lalu !! Kecepatan reratanya memang 6-7cm/tahun. Jadi kejadian pergerakan lempeng itu bukan baru-baru ini saja. Nah kalau disebutkan sedang bergerak ya jelas aja wong sudah lama juga begitu kok.
Nah dibawah ini saya cantumkan urutan peta jadul (jaman dulu), tapi bukan jaman kakek nenek, ini peta hasil rekonstruksi geologi yg dibuat Oleh Robert Hall dari Royal Halloway – University of London.

Dibawah ini peta Indonesia 50 juta tahun lalu

tect50.jpg

Dibawah ini peta Indonesia 40 juta tahun lalu
tect40.jpg
Dibawah ini peta Indonesia 30 juta tahun lalu

tect30.jpg
Dibawah ini peta Indonesia 20 juta tahun lalu
tect20.jpg
Dibawah ini peta Indonesia 10 juta tahun lalu

tect10.jpg
Dibawah ini peta Indonesia saat ini

tect0.jpg
Nah peta-peta jadul diatas sudah meyakinkan semua ahli kebumian bahwa pergerakan plate (kerak-kerak bumi) ini sudah terjadi sejak dahulu (sejak 50 juta tahun lalu, bahkan sebelumnya juga). Jadi bukan hanya baru-baru ini saja, apalagi bergerak akibat gempa kemaren, ya jelas bukan lah yaw. Itulah sebabnya muncul gunung api dan juga terbentuknya patahan-patahan di muka bumi terutama di Pulau Jawa bagian selatan dan juga bagian barat Pulau Sumatra, ini semua akibat gerakan lempeng-lempeng atau kerak-kerak ini.

Bagaimana dengan ramalan 11 hari itu ?
Lah kalau cuman ada yang bilang bahwa besok ada gempa dibumi ini ya jangan kaget. Wong seluruh bumi ini mengalami 5 gempa kekuatan 5SR setiap hari, hanya saja tempatnya berpindah-pindah. Dan urutannya terlihat acak tak beraturan.

Nah yg lebih krusial angka 11 hari ini …. darimana angkanya ? Tetapi bahwa kita harus tetep waspada itu sudah seharusnya sejak lahir. Karena Indonesia (terutama Sumatra dan Jawa) merupakan “disaster prone area” – daerah yg selalu akan mengalami bencanaa alam gempa dan tsunami utk pantai selatannya.

Mau lihat peta seismisitas Indonesia selama ini ?
Dibawah ini peta kegempaan yang hanya untuk gempa-gempa dengan kekuatan diatas 5SR, yg kekuatannya dibawah itu tidak diplot disini karena gempa kecil ini sudah ribuan kali terjadi di Indonesia sejak 1964, bahkan sudah jutaan atau milyaran kali sejak bumi tercipta:

Nah kalau hanya sekedar bilang besok di Indonesia akan terjadi gempa, maka itu adalah sebuah kebenaran. Tetapi kalau ada bilang besok akan ada gempa di kota Jakarta jam 7 pagi, dengan kekuatan 6 SR, wah itu jelas BOHONG !! dan jangan diteruskan beritanya apalagi pakai sms, kesenengan providernya donk, mahal lagi !

Nah, moga-moga anda ngerti sekarang … Kalau meneruskan sms atau imil sebagai alert sih ndak apa-apa tetapi jangan sampai membuat panik. Nah anda sekarang dapat meneruskan cerita ini supaya menenangkan mereka kan ?

Lebih berbahaya dijalan raya.
Ingat kemungkinan anda terkena bencana gempa jauuuh lebih kecil ketimbang mengalami musibah kecelakaan di jalan raya. Artinya dari pada membuat panik lebih baik memberikan pengertian yang benar dan memberikan mental kewaspadaan. Bayangkan bila email diatas membuat panik seluruh kota, saya yakin korban akan jauh lebih besar daripada hanya karena tsunami atau gempa.

Jadi hati-hatilah memfw berita, jangan-jangan dengan meneruskan berita yg tidak tepat anda telah menyebabkan seseorang mengalami kecelakaan lalulintas.

Hati-hati di jalan ya …. ! 😀

Dibawah ini peta gempa seputar Indonesia sepekan kemarin, coba hitung berapa gempa terjadi minggu lalu

World Recent Earthquake Map
Legend for earthquake map

Untuk Gempa-gempa diatas 2.5 MW sekitar Indonesia sepekan yang lalu, bisa dilihat dibawah ini

Map showing earthquakes
Legend for earthquake map

49 COMMENTS

  1. pakdhe, saya kira,, tektonik itu memicu magma muncul naik naik, ke dapurnya merapi, dan muncul,,,

    kenapa merapi sering ngeluarin aliran piroklastik???
    apa karena memang dapurnya merapi memproduksi gas tersebut??? terus kandungan abu merapi ada logam berat berbahaya ga??? kan bahaya ketika meletus,, bahaya abunya,, yang ada kandungan logam berat,,

  2. nice article 🙂

    well told, as Larry Gonick did.can i remove my emergency backpack now? ^^

    memang pergeseran lempeng2 benua udah terjadi sejak jutaan tahun yang lalu..tapi all of these hypes *shrugs* really panicking..

  3. Akhirnya isu gempa itu muncul juga setelah 1 tahun dari penyebaran isu. tepat tgl 30 September 2009. GEMPA MENGGUNCANG PADANG & SEKITARNYA PADA 7,6 SR JAM 17.16 WIB.

    GEMPA TERDAHSYAT….BANYAK YG HANCURRRRRRRRRRRRR..

    TURUT BERDUKA CITA BUAT TMAN2KU DI PADANG….

  4. Apabila bumi diguncangkan dengan guncangannya (yang dahsyat),
    dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung) nya,
    dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (jadi begini)?”,
    pada hari itu bumi menceritakan beritanya,
    karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya.
    Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka.
    Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
    Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.

    [QS Al Zalzalah (99) : 1 – 8]

  5. wuih…..
    hebat banget beritanya!
    bisa langsung melamar ke BMG,neh!
    hehehehehe

    benar-benar berita yang menarik. sebuah penemuan gegografi jenis baru yang belum pernah saya baca dibuku.
    tapi……
    informasi ini(mungkin)bersifat relatif,kan?
    bisa jadi berubah lagi suatu hari nanti.
    terima kasih banyak,Pak!
    ilmunya berguna banget.

  6. Apabila suatu bencana bisa ditentukan jam dan tanggalnya, ini suatu terobosan besar dalam dunia geologi, karena menurut saya ilmu geologi hanya bisa memperkirakan suatu kejadian tektonik berdasarkan kejadian-kejadian terdahulu. Artikelnya bagus banget Pak, terima kasih pencerahannya.

  7. Gw rasa gempa yg bertubi2 terakhir2 ini cuman peringatan dr yg diatas atas kelakuan org Indonesia yg makin tidak mengenal dan menjauh penciptanya!

  8. salam kenal nih bang atau om deh,saya benar takut th adanya berita akan terjadinya gempa atau stunami soalnya saya seorang single parent mempunyai 3 bidadari yg masih imoet klu bener ada bencana gimana larinya soalnya rumah dekat banget ama laut sunda kelapa,ancol pusing bang….ampe mules2,trims ya atas penjelasannya yg sangat jelas dan keren juga tuh gambar2nya buat saya tambah pinter aza ,yg terpenting kesadaran kita 2 ini kalau ingin bumi tak marah sama kita,pelihara yg bumi kita seperti memelihara diri kita sendiri ,thank’s bang tolong ya klu ada berita2 kabar2ri lagi persiapan gitu makasih

  9. Bang Rovy..boleh dong komen agak menyimpang tapi masih berhubungan dengan Tsunami. Menurut Bang Rovy kalau tsunami yang diisukan tsb terjadi karena efek dari pemanasan global yang terjadi di kedua kutub bumi kita ini apa mungkin? karena yang pernah saya baca jamdul juga, apabila esbatu yang berada di kutup sana mencair akan menimbulkan gelombang / kenaikan permukaan air setinggi 60 m di seluruh perairan di bumi ini, ….. ya agak sedikit … waspada … karena kan beberapa hari ini sering terjadi …gelombang 2 yang cukup tinggi di perairan selatan indonesia…

    Thanks

  10. banyak sekali orang yang mendapat berita dengan tidak lengkap. dan sialnya, berita tidak lengkap dan tidak benar itu malah diteruskan kepada orang lain. wah..tambah bias jadinya..

  11. makasih Rovicky.. ade saya yg di Bandung mulai denger gosip bakal gempa di Bandung 7 Juni.. mungkin gabungan dongeng pembuka tulisan ini dan berita PR yang di-refer Dedi Ganedi di atas (Mei 28th, 2007 at 3:07 am) ya? haha..

    terus juga, berita kompas yg ini:
    http://www.kompas.com/kompas-cetak/0705/26/humaniora/3555770.htm

    bukan ditulis oleh orang geologi haha.. tapi dari Policy Sciences jadi wajar saja kalau menurut saya artikel itu tidak geologically well-researched dan pake contoh2 yg irrelevant tapi biar kedengeran super serius (Tambora 1817, laut kidul).
    gimana nih, mau suruh migrasi ampe ke negara laen segala, tanpa dasar research yg cukup? haha..

    salam 🙂

  12. Pak Karistya, supaya pembaca tidak heran mbok bilangannya juga di Indonesiakan, itu lho palung terdalam di Samudera Hindia tertulis cuma 7, 725 m dan 8, 047 m. Ganti “koma” dengan “titik” sehingga menjadi 7.725 m dan 8.047 m kan sudah beres.

  13. hatur thx u infonya… btw kapan gempanya apa udah bisa diprediksi, perlu penelitian lebih lanjut pasal ada yang pernah melihat awan melintang di langit2 kota bandung seperti yang terjadi pasca gempa di kota Yogya dan kota kobe jepang, tanda retakan jg sudah terjadi… mohon bantuannya infokan ke email rifq thx u…

  14. saya juga baru dpt email ttg gempa tgl 7 juni 2007. cari info ke mana2 ,kok nyasar ke sini. saya kurang percaya dg berita itu. apalagi ternyata berita email itu sudah lama di edarkan. ANyway..saya boleh refer ke postingan ini ya..just for info. tuk temanku yg udah forward email tsb.
    Apapun…sentiasa berwaspada dan perbanyak amal ibadah, semoga kita dilindungi ALlah swt.

    salam

  15. Ini benar terjadi, tadi malam saya bermimpi ada gempa bumi yang cukup dahsyat. Saya berjalan terhuyung huyung karena gempa. Dinding gedung tinggi runtuh hampir mengena.

    Jika banyak orang yang mempunyai mimpi yang mirip dengan mimpi ini, maka berhati-hatilah.

    Ini semacam email lewat mimpi.

  16. bagai mana dengan berita di kompas ini
    http://www.kompas.com/kompas-cetak/0705/26/humaniora/3555770.htm

    Sabtu, 26 Mei 2007

    Patahan Sunda
    Ancaman Eksistensial Jawa-Sumatera

    Mu’man Nuryana

    Gempa bumi hebat yang mengguncang Pulau Sumatera dan Jawa dalam tiga tahun terakhir ini adalah sebuah bukti bahwa Patahan Sunda (Sunda Trench)—salah satu seksi dari Ring of Fire di belahan barat Pacific rim—telah memperlihatkan aktivitas seismik paling berbahaya.

    Aktivitasnya bisa saja terus berlanjut karena terkait dengan pergerakan lempeng-lempeng permukaan bumi. Tetapi, bagi penduduk yang menghuni kedua pulau tersebut dapat menjadi sebuah ancaman serius terhadap keberlangsungan hidupnya.

    Magnitude gempa bumi di Sumatera dan Jawa bisa saja melampaui apa yang pernah dialami selama ini, sementara tidak ada orang yang mampu memprediksi kapan dan bagaimana hal itu terjadi. Dengan asumsi bahwa penduduk tetap tinggal di situ, maka maksimum yang dapat mereka lakukan adalah mengurangi risiko bencana.

    Tetapi, sebagaimana yang kita alami sekarang, rehabilitasi dan rekonstruksi pasca-bencana di Aceh, Nias, Yogyakarta, Pangandaran, dan Padang yang telah menyedot sumber daya demikian besar, hasilnya masih jauh dari yang diharapkan.

    Pemerintah Indonesia terpaksa menangguhkan berbagai prioritas pembangunan nasional untuk mendahulukan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca-bencana. Penanggulangan bencana dengan pendekatan pencegahan juga tidak gampang karena perlu koordinasi, integrasi, dan sinergi serta pengerahan sumber daya yang luar biasa besar.

    Ongkos penanggulangan bencana alam bisa jauh lebih mahal dibandingkan dengan pemindahan penduduk secara massal dari daerah rawan bencana ke wilayah yang relatif lebih aman.

    Muasal semua gempa

    Patahan Sunda membentang mulai dari Teluk Bengali, bersambung ke Pulau Andaman dan Nikobar, Sumatera, Jawa, Bali, Lombok dan seterusnya, berakhir di Tanimbar. Patahan Sunda adalah patahan vulkanik yang membentuk Kepulauan Sunda Besar dan Sunda Kecil.

    Patahan ini termasuk ke dalam tipe convergent boundary, di mana dua buah lempeng permukaan bumi—Eurasian Plate dan Indian-Australian Plate—dalam proses bertumbukan (subduction). Di atas Sunda Plate inilah terhampar pulau-pulau besar dan kecil, laksana mutu manikam di khatulistiwa yang dikenal dengan Kepulauan Nusantara, sebuah kompleks kepulauan terbesar di dunia.

    Patahan Sunda adalah sebuah contoh klasik dari patahan vulkanik. Deformasi tektonik sepanjang zone subduksi Patahan Sunda inilah yang menimbulkan gempa bumi di Samudra Hindia tanggal 26 Desember 2004. Begitu pula peristiwa gempa bumi di Nias (28 Maret 2005), di Yogyakarta (27 Mei 2006), di Pangandaran (17 Juli 2006), dan di Padang (6 Maret 2007). Semua disebabkan oleh aktivitas Patahan Sunda.

    Masih banyak lagi peristiwa gempa bumi dengan magnitude lebih rendah yang tidak menimbulkan korban manusia dan kerugian harta benda, sehingga kurang mendapat perhatian masyarakat. Padahal, ini semua merupakan tanda-tanda alam yang memberikan peringatan kepada manusia untuk berpikir.

    Fenomena yang sama muncul pada April tahun 1815 dengan sebuah ledakan cataclysmic volcano Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, yang merupakan sebuah letusan paling kuat yang tercatat dalam sejarah. Debu vulkanik Tambora sampai menutupi langit berbulan-bulan lamanya sehingga menurunkan temperatur bumi sampai 3 derajat Celsius.

    Meskipun telah setahun pasca-letusan Tambora pada waktu itu, hampir semua lapisan hemisphere di belahan utara mengalami temperatur lebih dingin selama bulan-bulan musim panas. Masyarakat di sebagian Benua Eropa dan Amerika Utara mengenal tahun 1816 itu sebagai “the year without a summer”, akibat tertutupnya permukaan bumi oleh awan debu dari vulkanik Tambora.

    Ancaman eksistensial

    Motivasi tulisan ini sekadar mengingatkan bahwa aktivitas seismik Patahan Sunda adalah sebuah ancaman paling realistis dan serius dewasa ini bagi keberlanjutan bangsa Indonesia, terutama bagi mereka yang tinggal di Pulau Sumatera dan Jawa.

    Di lepas pantai barat Pulau Sumatera dan lepas pantai selatan Pulau Jawa, terbentang Patahan Sunda yang menakutkan, seperti dilukiskan dalam konsep mitologi Jawa Kuno; yang menyebut Laut Hindia sebagai “Laut Kidul” yang penuh misteri karena memiliki palung laut paling dalam di dunia (7,725 meter) setelah Patahan Diamantina di Lautan Hindia (8,047 m).

    Subduksi atau benturan antara Eurasian Plate dan India-Australian Plate itu dikenal dengan Patahan Sunda dengan aktivitas seismik yang semakin intensif akhir-akhir ini. Apakah fenomena alam ini perlu dihiraukan atau biarkan saja berlalu bagai air mengalir di sungai? Jawabannya bergantung pada kita sendiri. Kalau gempa bumi di Pulau Sumatera dan Jawa dinilai sebagai peristiwa alam biasa, maka kita cukup menjalaninya saja sebagai sebuah realitas dalam kehidupan sehari-hari.

    Akan tetapi, kalau kita berpikir untuk kepentingan eksistensi bangsa Indonesia dalam kerangka jangka panjang, maka bencana alam akhir-akhir ini dapat menjadi sebuah informasi penting bagi kajian lebih lanjut. Dengan begitu didapatkan sebuah landasan berpikir ilmiah untuk mendukung sebuah kebijakan nasional berupa migrasi penduduk untuk kepentingan eksistensi sebuah bangsa Indonesia dalam kerangka jangka panjang.

    Migrasi besar-besaran

    Cukup beralasan bila mulai berpikir tentang konsep migrasi penduduk dalam skala besar dalam konteks jangka panjang bagi mereka yang tinggal di Pulau Sumatera dan Jawa ke pulau lain yang relatif lebih aman. Di dalam Nusantara sendiri, Indonesia memiliki Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi yang relatif aman bagi permukiman penduduk.

    Bahkan, kalau perlu memikirkan bagaimana agar bisa mengembangkan permukiman penduduk di daerah baru di Benua Australia bagian utara karena lebih mudah terjangkau dan lebih aman. Benua yang demikian luas itu belum mampu dimanfaatkan secara optimal oleh penduduknya untuk permukiman dalam skala besar.

    Benua itu pada hakikatnya adalah tanah milik bangsa Aborigin yang serumpun dengan bangsa-bangsa di Asia Tenggara. Hanya karena konsep kolonialisasi yang diterapkan oleh pemerintah kolonial sehingga muncul batas-batas antarnegara, di mana penduduk serumpun sudah tidak bisa lagi saling bersilaturahmi dan berbagi tanah bagi kehidupan bersama.

    Bangsa-bangsa Eropa (Inggris, Portugis, Spanyol, Perancis, Belanda, Irlandia) bisa mengembangkan permukiman dalam skala massal (koloni) di luar wilayah negara mereka, yakni Amerika Utara, Kanada, Asia (Canton, Hongkong, Macao), Australia, dan Afrika (Afrika Selatan), dan Pulau Timor. Kenapa bangsa-bangsa Asia Tenggara tidak boleh melakukan hal yang sama dengan motivasi yang lebih mulia, yakni kemanusiaan? Kalau dahulu bangsa Eropa melakukan ekspansi karena alasan ekonomi dengan menguasai sumber daya alam, tetapi kita dapat melakukan hal yang sama atas dasar keselamatan dan eksistensi manusia.

    Kerja sama internasional dapat membuka ruang bagi kita untuk memperoleh hak hidup lebih layak dan aman. Apa artinya warga dunia menyebut dirinya sebagai “komunitas global” kalau dalam situasi kesulitan seperti yang kita hadapi mereka tidak mampu memberikan solusi yang lebih adil….

    Mu’man Nuryana Peneliti Tamu di Hosei School of Policy Sciences, Universitas Hosei, Tokyo

  17. Perlu Ada Penelitian Sesar Cimandiri-Lembang
    Bandung Terancam Gempa Dahsyat
    BANDUNG, (PR).-
    Kota Bandung dan sekitarnya terancam diguncang gempa besar berkekuatan 7,5 pada skala Richter (SR). Ancaman ini bisa muncul, jika terjadi pergerakan di sejumlah lempeng penyusun patahan Cimandiri-Lembang. Jika ini terjadi, gempa besar tersebut akan mengguncang cekungan Bandung. Selain Kota Bandung, Cimahi, Padalarang, serta Lembang, gempa juga mengintai sejumlah wilayah di Sukabumi, termasuk Palabuhanratu.

    ”Sesar Cimandiri-Lembang masih tergolong aktif. Yang menjadi masalah terbesar, sesar ini dikelilingi wilayah padat penduduk, seperti Kota Bandung dan Kota Cimahi,” tutur pakar geoteknologi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr. Danny Hilman Natawidjaja, usai Seminar Mitigasi Bencana Geologi di Hotel Horison, Bandung, Rabu (23/5).

    Sesar (patahan) yang memanjang dari Palabuhanratu Kab. Sukabumi hingga Maribaya Lembang itu tersusun oleh lebih dari lima segmen batuan. Salah satunya, Segmen Maribaya-Cimahi, yang panjangnya mencapai 25 km. Menurut Danny, jika terjadi secara bersamaan, pergerakan 3-4 segmen saja sudah bisa menimbulkan gempa dengan kekuatan mencapai 7,5 pada skala Richter.

    Berdasarkan penelusuran ”PR”, gempa berkekuatan 7-7,9 SR dapat mengakibatkan kerusakan serius pada areal yang cukup luas. Diperkirakan, gempa ini bisa menghancurkan sebagian besar gedung dan fondasinya. Bahkan, getarannya bisa menimbulkan retakan tanah di areal yang cukup luas. Kerusakan yang ditimbulkan bisa disetarakan dengan ledakan 160 juta ton TNT (trinitrotoluene).

    Kalaupun yang mengalami pergeseran hanya satu segmen, menurut Danny, gempa yang ditimbulkan bisa mencapai 6 SR. Bahkan, jika Segmen Maribaya-Cimahi yang bergerak, kekuatan gempa bisa menembus angka 6,9 SR. Gempa ini cukup untuk menimbulkan retakan tanah dan menghancurkan bangunan dalam radius lebih dari 100 kilometer.

    Sayangnya, menurut Danny, hingga saat ini sesar Cimandiri-Lembang belum mendapat perhatian serius dari pemerintah. Padahal, potensi bencana yang akan ditimbulkan akibat pergerakan sesar tersebut cukup besar.

    ”Sejauh ini, pergerakan yang terjadi di sekitar patahan Cimandiri-Lembang memang masih relatif aman. Bahkan, berdasarkan data 100 tahun terakhir, belum diketahui adanya pergerakan yang bisa menimbulkan bencana besar,” tuturnya.

    Namun, mengingat padatnya wilayah di sekitar sesar alam itu dan tingginya potensi gempa yang bisa ditimbulkan, ia menyarankan agar pemerintah segera melakukan penelitian lanjutan. ”Bagaimanapun kita tinggal di areal rawan gempa. Kapan saja, sesar tersebut bisa mengalami peningkatan aktivitas,” tuturnya.

    Dia menilai, data yang ada saat ini belum mencukupi kebutuhan minimal untuk digunakan sebagai acuan melakukan tindakan pencegahan maupun langkah evakuasi. Padahal, selain kecepatan pergeseran, struktur tanah dan batuan yang ada di sekitar wilayah gempa juga memiliki andil yang besar untuk menentukan besarnya dampak yang ditimbulkan.

    ”Suatu gempa dengan kekuatan yang sama dapat menimbulkan efek yag berbeda, bahkan di dua lokasi yang jaraknya berdekatan sekalipun,” tutur Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta Dr. Antonius Ratdomopurbo.

    Walaupun sebuah bangunan yang berjarak 10 km dari pusat gempa rusak parah, menurut dia, tidak tertutup kemungkinan jika bangunan lain yang berjarak 3 km dari pusat gempa hanya mengalami retak ringan. Hal itu dipengaruhi susunan sedimentasi tanah yang ada di lokasi tersebut.

    ”Karena itu, untuk melakukan mitigasi bencana perlu dilakukan penelitian secara menyeluruh, termasuk struktur sedimentasi yang membangun lapisan tanah di suatu daerah. Dengan demikian, pemerintah bisa dengan efektif melakukan mitigasi bencana,” katanya.

    Penelitian menyeluruh di patahan Cimandiri-Lembang, menurut Danny, diperlukan untuk memprediksi sumber gempa, efek yang ditimbulkan, dan bagaimana kerusakan yang akan timbul. ”Dengan demikian, proses mitigasi bencana bisa dilakukan dengan efektif dan efisien,” kata Danny. (A-150)***

  18. Mas Rock,bagaimana kaitannya dgn gaya tarik bulan yg menyebabkan pasang laut kemarin2?,..apa tidak juga membuat/menggugah lempengan utk membuat pressure?,..mohon pencerahan secara geologist maupun effect gravity dn electromagnetic fieldnya thd perputaran bumi…..yg kemungkinan apa ada effect ke gerakan lempengan yg tidak “USUAL”,…..

  19. heheheh…. puas-puas… puas banget kalau gitu, tapi kan tetep harus eling lan waspdo to Pak Rovicky. Gusti Allah kan ingkang kagungan Kerso. Kepareng maturnuwun , akhirnya ada jawaban dari ahlinya. Kepareng bapak.

  20. Kalau diliat dengan kacamata geologi. Kejadian geologi tahun 2006 dengan saat ini untuk kecepatan tektonik dan kecepatan gerakan lempeng akan sama saja tidak ada perubahan.

    Jadi kalau dinyatakan bahwa ustrali akan nabrak Jawa ya masih valid sampai 2 juta tahun mendatang 🙂
    Sampai jumpa dua juta tahun lageee

  21. TApi ada sedikit pertanyaa nih, tulisan ini kan ditulis Juni 2006, kalau sekarang apakah analisa ini masih berlaku ya. Maaf nih sekedar tanya maklum awam banget pak.

  22. I thought so!!
    Gue cari2 di CNN kagak ketemu tuh berita boongan,
    ternyata disini ada yang repot2 menjelaskan science nya.

    Good effort, Thanks!
    😀

  23. Thanks Informasinya

    Kalau gitu beberapa Mya thn yad Indonesia bisa jadi gunung diutara australia atau terlempar keutara tidak di khatulistiwa lagi.

  24. Baru baca mengenai sidoarjo, trus penasaran dengan judulnya ” Berita email yg membahayakan”. Ternyata isinya oke banget, apalagi gambar pergerakan lempengnya full colour. Makasih banget infonya. Salam kenal.

  25. sebagai seorang yang buta akan hal ini, posting bapak such an eye-opening buat saya yang awam ini 😉

    salam kenal dari seorang awam 😉

  26. wow, thanks banget mas, infonya sangat membantu, apalagi peta jadulnya…jadi tahu munculnya indonesia krn gerakan lempengan bumi seperti itu. salam kenal

  27. Thanks atas informasinya. Jadi kalau John Howard masih aja khawatir dgn bahaya dari utara, maka dia salah. ternyata Australia mendekati Indonesia dgn kecepatan 6-7 cm/year. jadi kita dong yg bilang “bahaya dari selatan”

    Buat Bung Indi, “imil” itu bukan salah ketik, tapi plesetan alias disengaja. bukan begitu Bung Rovi?

Leave a Reply