Geothermal dan Kebijakan Listrik

10

Anonymous said…
Artikel yang bagus… http://rovicky.blogspot.com/2006/04/potensi-geothermal-vs-minyak-bumi.html
mau nanya kira-kira kendala apa saja yang menghambat pengembangan panas bumi ini di Indonesia ya Mas? dan bagaimana solusinya?
Fufu

Kendala utama yg terlihat saat ini adalah belum terintegrasinya antara kebijakan energi dan pelaksanaanya. Kebijakan Energi Nasional (KEN) 2005 sebenarnya sudah mengatur hal itu semua. KEN mengatur hingga target kondisi energi di Indonesia hingga 2025. Keterpaksaan “emergency /crisis stage” dengan alasan waktu yg mepet, serta kekurangan modal masih sering menjadi alasan utama ketika kebijakan/keputusan diambil untuk membangun sebuah pembangkit. Problem lain ini bisa dipilah menjadi beberapa item dibawah ini yg juga sudah diketahui sejak dari pertemuan tahun 2003, al :

  • belum terselesaikannya secara keseluruhan peraturan-peraturan pelaksanaan sebagai implementasi dari ketiga UU tersebut;
    Ada peraturan yg agak rumit antara perturan daerah dan pusat, peraturan/peruuan masalah energi dan bahkan dengan uundang-undang air tanah dll
  • subsidi BBM dan TDL yang belum sepenuhnya dihapuskan;
    Daya beli masyarakat menjadi kendala untuk menyelaraskan harga energi ini.
  • belum efisiennya sistim ketenagalistrikan;
    Efisiensi disini ada dua hal antara efisiensi karena memang masalah fisika (karena transmisi) dan pencurian serta tunggakan beberapa pengguna listrik PLN.
  • tarif dasar listrik yang berlaku saat ini belum pada posisi yang memberikan keuntungan yang layak, baik bagi PLN sendiri maupun investor listrik swasta;
    TDL ditentukan berdasarkan harga energi dan daya beli, ini akhirnya seperti telur dan ayam, mana yg didahulukan ?
  • belum terpadunya peraturan perundang-undangan lintas sektor yang mendukung kebijakan investasi di sektor energi termasuk peraturan daerah yang sering tidak sinkron dengan kebijakan pusat;
  • masih lemahnya kemampuan para perencana energi daerah untuk menganalisis kebutuhan dan penyediaan energi daerahnya. Selain itu, ketidakseragaman data serta terbatasnya fasilitas yang tersedia menjadi kendala bagi perencanaan energi daerah;
    Kebutuhan tenaga-tenaga energi di pemerintah daerah mestinya diantisipasi baik oleh dunia pendidikan dan maupun PEMDA sendiri.
  • peraturan perpajakan yang berlaku dirasakan masih memberatkan dunia usaha sektor energi;
    Investor yg masih belum mendapatkan income sudah harus membayar pajak, akan lebih menarik seandainya pajak akan diminta ketika nanti sudah mulai berproduksi
  • peraturan perundang-undangan yang ada diasumsikan belum dapat menjamin kelangsungan investasi dalam jangka panjang;
    Stabilitas politis menjadi kunci. SBY telah menunjukkan stabiitas lebih bagus ketimbang sebelumnya, semestinya investasi sudah tidak lagi konsen dengan politic stability ini.
  • minat berinvestasi di daerah masih kurang, investor yang ada saat ini maupun yang ingin masuk bukanlah investor yang sesungguhnya melainkan hanya sebagai broker.
    Selain itu di dunia ini penggemar energi geothermal tidaknlah banyak. SUdah seharusnya Indonesia yg memilki potensi yang 40% dari cadangan dunia “leading” dalam pemanfaatannya serta riset-risetnya.

Kalau dirangkum uraian diatas, kendala utamanya masih masalah keekonomian saat ini serta “keberanian” pemerintah untuk memberikan prioritas pada energi geothermal “bukan pada dasar keterpaksaan“.

10 COMMENTS

  1. Salam kenal Pak Rovicky,

    Geothermal memang bahasan yang menarik. Kebetulan saat ini saya bekerja di salah satu perusahaan pengembang geothermal. Cukup pelik permasalahannya, persis seperti yang sudah Pak Rovicky uraikan di blog ini.

    Begitu melimpah sumberdaya geothermal kita tapi pemanfaatannya masih sangat minim. Bahkan ironisnya lagi, geothermal bagaikan “barang asing” bagi sebagian besar masyarakat indonesia. Mari coba kita tanyakan ke 10 orang WNI, mungkin sedikit yang tau apa itu geothermal. Tapi coba kita tanyakan ke 10 orang tadi, apa yang mereka tau tentang batubara, mungkin jawabnya akan panjang lebar. Artinya: Geothermal masih belum terasa “manfaat/tidak manfaatnya” bagi kita secara langsung. Sehingga: Perlu “iklan” (sebagian orang menyebutnya sosialisasi) yang jitu biar masyarakat “ngeuh” bahwa kita adalah pemilik sumberdaya geothermal TERBESAR di dunia. Mudah-mudahan kalau sudah “ngeuh” masyarakat mau “peduli” yang pada ujungnya nanti bisa mendorong pemanfaatan geothermal pada kehidupan sehari-hari.

    Beriringan dengan hal tsb di atas, sudah saatnya sekarang kita (termasuk PLN, Dirjen LPE, Dirjen Minerbapabum, dan seluruh pihak yang merasa dirinya “peduli” akan sumberdaya alam termasuk geothermal ini) untuk tidak lagi menyerah pada analogi “Seperti Ayam dan Telor”. Karena saya yakin Ayam dan Telor diciptakan untuk saling membantu & mendukung, bukan saling berebut mana yang duluan.

    Waduh.. maaf Pak Rovicky, tulisannya jadi kepanjangan. Segini dulu aja Pak, kalau ada kata-kata yang kurang berkenan mohon dimaafkan.

    Wassalam

    Petto Rashido

  2. lah emang mau drilling soal apanya ?
    Aku bukan drilling engineer, hanya tahu dikit ttg proses drilling. Kalau mau tanya yang bener bisa ke mailist Migas Indonesia.

  3. ngomong soal goetermal, saya boleh minta info yang jelas tentang proses drilling gak, please as soon as posible ya kangmas

  4. pak dhe… ini artikel yang bagus bisa jadi bahan referensi saya nantinya didalam materi paper saya…. mungkin materi ini bisa jadi masukan bagi mahasiswa seperti saya sebagai penerus bangsa (Amin…) tapi kayaknya masih kurang atu tuh pak dhe… setahu saya dari distribusi juga kan masih agak susah meski ada yang mengatakan 40% Panasbumi dunia ada di Indonesia tapi kan diwilayah kalimantan amat-amat jarang bahkan idak ada potensi geothermal…. kemudian dari segi SDM juga masih banyak yang berminat ke Tambang dan Migas….. Ngomong… ngomong pak dhe… perusahaan mana saja yang saat ini mengelola Geothermal Indonesia dan seberapa profitkah mereka dari Geothermal tersebut…..

  5. Mat Sore,

    Ada suatu wacana/pendapat apakah ada kemungkinan bahwa hot-mud flow Porong terjadi di sumur geothermal,misalnya daerah terdekat : Bedugul-Bali ?
    Kalau saya pribadi kemungkinannya ko’ kayak-kayaknya .. sih kecil.
    Didaerah geothermal ada juga yang mirip dengan mud-vulcano, disebut mud-pool. Terjadinya, dipermukaan akibat dari fluida panas yang mengalir dipermukaan. Tanah permukaan terubah oleh fluida panas tsb menjadi altered rock dan karena fluida tsb juga diikuti oleh gas H2s, maka mud-pool akan membentuk rupa gunung kecil dengan endapan (sublimasi) belerang disekitarnya. Jangan coba-coma menginjak mud-pool yang telah kering, …. kaki anda akan lonyot/melepuh. Oleh karena itu disarankan berhati-hatilah kalau ingin mendekati manifesatsi geothermal (seperti di Kawah Sikidang Dieng), usahakan pakai tongkat bambu/kayu untuk menyakinkan bahwa tanah disekitar manifestasi cukup keras kalau diinjak. Kalau ada pakai sepatu boot (sepatu kebun), bila terperosok di mud-pool kakinya tidak terkena oleh lumpur panas.
    Batuan penyusun sistem panasbumi pada umumnya adalah didominasi oleh batuan beku, tidak seperti minyak (formasi yang diatas Kujung : formasi Kalibeng). Bila dijumpai lapisan sedimen, misal di Bali, akan terdapat dibagian bawah; lapisan sedimen (gamping)tersingkap di pantai selatan Bali. Bila demikian halnya, formasi sedimen lempung (bila ada) akan terletak dibagian dasar pemboran geotermal. Hal ini mengingat bahwa elevasi di Bedugul rata-rata 1500-1600m diatas muka laut dan kedalaman pemboran sekitar 2000-2500m dari permukaan tanah.
    Bila ada teman/sejawat yang punya ide, please let me know.
    Thanks berat,
    Mul.

  6. Salam Kenal,

    Di Bali, Pulau Dewata, ada juga daerah prospek geotermal yang disebut Bedugul Geothermal prospect area. Sudah ada 3(tiga) sumur eksplorasi (directional well)dengan kedalaman ukur sekitar 2.700-3.000m; temperatur didasar sumur skitar 300 derajat C (high enthalphy). Sedang taraf dikembangkan sebesar 175MWe (dari potensi terhitung 400MWe) secara bertahap, unit-1 s/d unit-4 (10MWe, dan 3 x 55MWe, walaupun terseok-seok akibat dari butir-butir diatas (kendala pengembangan geotermal) masih belum mulus.

    Kalau sedang berlibur ke Bali coba tengok-tengok di Bedugul, seberang danau Bratan.

    Ma’Kasih
    Mul.

  7. salam kenal….
    indonesie kan kaya smber panas bumi, di samping mudah, murah, effisien, pkk’e baek deh to masy….
    yakin deh bakalan makmur kita kalu listrik kita pake geothermal..

    salam

    novi

  8. salam den,
    agak terlambat saya mbaca tulisan njenengan tentang potensi geothermal…
    agak rugi neh
    la wong asik je….
    sejak dari dulu sampe sekarang yang “nggumunke” dari bangsa kita ini (baca : pemerintah) hihihi….
    selalu “menutup mata” terhadap alternatif2, di bidang apa pun, yang mempunyai nilai positif dan bisa dikembangkan….
    gak usah jauh2 deh, masalah makanan pokok, beras….
    kenapa sih “harus” beras ?
    padahal di sd diajarkan makanan pokok wong indonesia tu gak cuma beras, ada jagung, sagu, singkong dll….

    kembali masalah energi tadi den,
    saya kok jadi rodok2 curiga kalo “ada apa2” di balik kebijaksanaan energi kita
    sesuai dengan semboyan kuno “kalo bisa dipersulit kenapa harus dipermudah ?”
    ato jangan2 mentalitas bangsa kita emang seperti itu ya ?
    mempersulit sesuatu hal yang mudah dengan harapan bisa meraup keuntungan dari “kesulitan” itu… hehehehe (sinis gak sich ?)

    ok den,
    kapan2 mbok ya sampeyan nulis tentang potensi2 geothermal di indonesia….
    wong kita hidup di atas ‘ring of fire’ kok gak bisa manfaatin ?
    mosok cuma entuk bencana-ne ae ???
    hehehe….

    salam,
    bung thons

Leave a Reply