Kamu jahat … Dia baik … lah aku ?

1

Semalam saya membaca-baca di beberapa website dan portal berita Indonesia tentang peradilah mantan Presiden Soeharto. Saat ini juga muncul ada wacana pengampunan Suharto yg dibarengi pengampunan Sukarno sepertinya sebagai “perimbangan” issue. Kekuatan dua kubu ini selalu saja akan muncul, siapapun pemimpinnya. Saya lebih takut kalau dua kubu ini kan terus-terusan menjadi dikhotomi abadi di Indonesia yg sejak dulu sering muncul kemudian mengusung “ideologi” sebagai payung, misalnya antara Nasionalis-Agamis, atau mengusung Reformis-Statusquo, ABRI-Sipil dll.

Jaman Sukarno dulu juga mungkin ada yg ingin mengampuni Belanda, bahkan beberpa temen saya ada yg masih juga “bangga” dengan apa yg dilakukan Belanda di Indonesia. Misalnya pemetaan yg sistemik, penanganan yg lebih memanfaatkan saintifik. Jaman Suharto juga sama saja …. Ada yg menginginkan pengampunan dan ada yang mengajukan tuntutan “keadilan”.

Nah itulah sistem nilai akan selalu saja dinamis … Tidak mudah menilai mana yg bener mana yg salah, karena cara menilainya sudah berbeda. Yang sering tidak tepat atau penyebab permasalahan justru “keinginan” untuk menilai aku bener dan kamu salah. Kamu dosa dan aku dapat pahala.

Seperti “tebang pilih” jaman kemarin itu, dimaksudkan utk memutus rantai hama wereng. Namun cara itu kalau yg dulu disebut sebagai “tanam paksa” (kultur stelsel), keduanya hakekatnya sama saja “culture selection”.

Nah dimana akan berdiri ?
tergantung penilainya, kah ?
Atau “kangkangi” saja keduanya … toh itu sudah gejala alamiah biasa saja, dan yang namany amenyalhkan pendahulu itu sudah terjadi bolak-balik sejak jaman rekiplik …

“ah, aku lebih suka jadi murid yg belajar, ketimbang menjadi guru yg menilai”

1 COMMENT

Leave a Reply