Belajar dari aktifitas Gunung Merapi

1

On 4/20/06, [email protected] wrote:

> Merapi bakalan meletus 10 – 14 hari mendatang demikian sendiko pendito
> Raja NgaYogyokarto Hadiningrat,Sultan Hamengku Buono Kaping sedoso
> (demikian di Detik .com.)Apa wedus gembelnya sudah pada lari ya….
>
> Ism

Kadangkala kalau ada “sendiko” dari sultan atau kyai, pendeta, pastur, bhiksu dll yg tidak didasarkan pada kaidah ilmiah ini terdengar lucu.
Memang bisa saja sendiko ini sangat ampuh dalam penanggulangan atau usaha mengurangi korban. Namun dalam jangka panjang tidak memberikan keberdayaan masyarakat dalam mengenali kondisi alamnya. Bahkan lebih ekstrimnya “tidak mendidik“, walaupun sangat mungkin cara seperti inilah yang menyelamatkan nyawa.

Darurat (emergency state).
Sebagai penguasa atau pejabat seringkali dalam kondisi yg sangat “darurat” maka penjelasan ilmiah sudah bukan hal yg penting lagi, yg penting selamat. (note: kondisi “darurat” ini bisa saja sangat subjective).
Memang kalau rakyat masih hanya mampu bersikap menunggu amaran/peringatan/berita dari “yang dipercaya” maka ucapan (sendiko) dari sang raja akan lebih ampuh sebagai “komando“. Keampuhan “komando” ini akan terlihat dari pada kajian ilmiah yang “ndakik-ndakik” (detil dan bertele-tele) bikin mumet malah ndak sempat menyelamatkan diri.

Namun sangat perlu disadari oleh para pendidik, bahwa perlu saat-saat tertentu untuk memberikan “ilmu” sehingga akan “berkesan“. Saat-saat genting akan memberikan usia penyimpanan memori yg lebih awet ketimbang saat normal.

Pemahaman terhadap kondisi rakyatnya ini (yg sering masih tertinggal) sangat jarang dimiliki orang yg pinter. Yah wajar saja, scientist biasanya hanya melihat secara alamiah apa-adanya, tidak berpikir bagaimana manusianya, Saintis hanya ngomong “wong kondisi alamnya emang sudah gitu, mau gimana lagi?“. Jadi seringkali bukan scientist yang menyelamatkan nyawa manusia saat ini. Justru orang-orang yg berpengaruh (dipercaya) lah yang akan lebih menyelamatkan mereka.
IAGI saat ini memiliki momen bagus untuk memperkenalkan pendekatan ilmiah-akademis dalam menghadapi G Merapi secara khusus dan Gunung api pada umumnya. Membuat tulisan di koran lokal, ceramah atau hal-hal lain termasuk mengajak mahasiswa supaya lebih mengenal alam sekitarnya.
Menjelaskan bahaya Gunung Api lebih bermanfaat buat Yogyakarta. Namun seminar gempa dan tsunami kurang relevan dengan Jogeja.

Duo- Pendekatan dua arah scientifik dan klenik.
Pendekatan dari berbagai arah barangkali akan sangat efektif dalam menghadapi gejala alam di Indonesia ini. Pendekatan klenik akan sangat diperlukan dalam kondisi gawat (emergency), juga peanfaatan orang-orang yg berpengaruh misalnya “penjaga” atau juru kunci G Merapi, dan juga Raja atau Sultan penguasa di Jogja. SBY juga sudah meminta “prediksi” ilmiah tentang kemungkinan letusan Merapi.

Saya sendiri ketika membaca berita tentang perubahan status G Merapi dua minggu lalu tidak secara khusus mengkaji ilmiahnya, lah wong aku juga bukan volcanologist. Aku hanya merasa perlu memposting di IAGI-net saja. Memang kadangkala ada “rasa aneh” ketika mengamati perkembangan status Merapi ini, kayak meihat ada penampakan aja :). Kayaknya gara-gara dulu sering “ngematke” gunung yg satu ini. Ya, dulu aku suka melihat Gunung Merapi dari atap rumah waktu masih kecil di Jogja, …. psst sambil main layang-layang :).

RDP

Quote —- SBYpun sudah minta penjelasan ilmiah.
Menurut Menko Kesra Aburizal Bakrie seusai rapat di Kantor Presiden di Jakarta, kemarin, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta jajaran di bawahnya, khususnya Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Kegunungapian, membuat prediksi kemungkinan terjadinya letusan Merapi secara ilmiah. (Tim Kompas)

1 COMMENT

Leave a Reply