Geothermal mendapat angin segar !

8

Barangkali semua mata hanya tertuju pada pentholan paling atas dari komposisi board yg ada di Pertamina. Hampir semua memperhatikan siapa yg menjadi Direktur Utama Pertamina yg diumumkan berdasarkan Kep-29/MBU/2006 and No. Kep-30/MBU/2006 mengenai pergantian of PERTAMINA’s BOD dan BOC, pada tanggal 8/3/2006 oleh Menteri Sugiharto. Tapi sayangnya mata saya selalu saja tertuju pada hal yang berbeda. Mungkin perlu ganti kaca mata 🙂

Hampir semua melihat impaknya pada kasus Cepu, namun ada beberapa hal yg jangan sampai kita lewatkan hanya karena masalah Cepu saja menjadi latar dari pergantian ini. Dalam artian energi secara utuh menyeluruh, ada sebuah keputusan lain yg perlu diperhatikan dengan penggantian komposisi board ini. Terlihat adanya arah belokan (turning point) strategis yg harus diperhatikan dan dilihat dengan lebih jernih. Dan perlu dukungan semua “stake holder” industri migas dan energi secara umum.

Dalam sebuah pertempuran maka invanteri adalah sebagai pembuka jalan yg sangat menentukan jalannya pasukan dibelakangnya. Nah …. Siapa yg menjadi pengelola hulu ?

PERTAMINA’s new BOD:

* President & CEO : Ari H. Soemarno
* Deputy President Director & COO : Iin Arifin Takhyan
* Corporate Senior VP, Upstream : Sukusen Sumarinda
* Corporate Senior VP, Refining : Suroso Atmomartoyo
* Corporate Senior VP, Marketing&Trading : Ahmad Faisal
* Corporate Senior VP, General Affairs&HR : Sumarsono
* Corporate Senior VP, Chief Financial Officer : Frederick ST Siahaan

PERTAMINA’s BOC are as follows:
* President Commissioner : Martiono
* Commissioner : Muhammad Abduh
* Commissioner : Umar Said
* Commissioner : J Purwono (replacing Iin Arifin Takhyan)

Kalau diperhatikan dua posisi dibawah posisi Dirut adalah mereka yang memiliki background energi geothermal.

Name : Iin Arifin Takhyan
Date of Birth: Tasikmalaya, 16 February 1952
Position : PT Pertamina (Persero) Deputy President Director&COO
Educational Background:
* Petroleum Engineer, Bandung Technology Institute (ITB)
* Energy Technology Geothermal, University of Auckland, New Zealand
* Energy & Environmental Economics, University of Auckland, New Zealand
Carreer:
* Director of Production Sharing Management, Pertamina
* Corporate Senior VP Upstream, Pertamina
* Directorate General on Oil&Gas, Energy & Mineral Resources

Name : Sukusen Sumarinda
Date of Birth : Semarang, 3 August 1951
Position : Corporate Senior VP, Upstream PT Pertamina (Persero)
Educational Background:
* Geologist, Gajah Mada University (UGM)
* Geothermal Institute of Auckland, New Zealand
Carreer:
* General Manager JOB Lasmo Malagot
* General Manager Geothermal – Upstream Directorate PT Pertamina (Persero)

Ada satu kegembiraan buat saya yang sering mengompori penggunaan energi geothermal di Indonesia. Ya geothermal. Pemilihan komposisi ini jelas memiliki arti yang sangat penting bagi Pertamina serta pemerhati energi di Indonesia. Pemanfaatan energi geothermal lebih kompleks dari migas. Geothermal energi saat ini masih jauh pemanfaatannya. Dari total potensi Indonesia sebesar 19.000 MW atau 40 persen dari potensi panas bumi dunia, total jumlah energi yg sudah dimanfaatkan baru sebesar 800MW listrik (2.5% total listrik) dan ini baru 4% dari potensi Indonesia . Dan kalau diperhatikan, semua potensi ini adalah potensi Geothermal high entalphy, belum lagi geothermal low entalphy atau sering disebut juga aquatermal yg ditulis sebelumnya.

Selamat Pak Sukusen dan Pak Iin !
Tentunya pengetahuan tentang geothermal ini sangat diharapkan akan sedikit membangkitkan pengembangan potensi geothermal ini menjadi andalan selain minyak-gas bumi yg saat ini sedang carut marut. Potensi geothermal harus mendapat porsi perhatian yang sepadan sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Ah kalau cuman sebesar Cepu saja, itu sih ecek-ecek lah dibanding potensi yg hampir 20 000MW energi ini (setara dengan 8 miliar BOE, barrel oil equivalent). Pergantian BOD-BOC ini bukan sekedar Cepu !

Semoga angin segar ini bukan sekedar semilir yang menina bobokkan bagi mereka yg dilanda kesedihan karena carut-marutnya sisi migas di Indonesia.

foto : Dieng Geothermal Plant 55 MW

8 COMMENTS

  1. Mengapa baru saat ini energi ini sangat diperhatikan ?? bagi Saya,tidak lain karena pemanfaatan energi ini sebagai pembangkit listrik tidaklah semudah membuat PLTA dan PLTD serta PLTU.
    Selain alasan klasik sejumlah pengamat seperti teknologi pemanfaatan yang belum memadai waktu itu, terdapat faktor pertimbangan lainnya yang sangat krusial.

    Pemanfaatan energi Geothermal memerlukan Eksplorasi dan pengkajiannya yang rumit serta memakan cost yang lumayan lebih besar dibandingkan pembangkitn listrik lainnya. Pembangunannya tidak hanya didasarkan manifestasi panas bumi yang ada semata (misal : ada air panas, ada gunung berapi),perlu banyak pengkajian dari survey geologi, kemudian geophysics, dll.

    Bentuk survey seperti ini (meskipun berbeda dalam hal metoda)dapat diartikan kerumitan yang sama dalam eksplorasi minyak dan gas. Tentunya, Pemerintah dalam hal ini, akan lebih mendahulukan pengeksplorasian minyak dan gas yang memiliki nilai ekonomis terlebih dahulu.

    Di masa ini, kebutuhan energi sangat dibutuhkan sekali, kita (boleh dibilang) sudah terdesak untuk melakukan pemanfaatan sumber-sumber energi lain yang berpotensi di negara kita. Apalagi di saat kita sudah menjadi net importir dari komoditi yang selama ini kita banggakan yaitu minyak. Selain itu, issue penting lainnya adalah polusi. Polusi yang diakibatkan batu bara untuk pembangkitan listrik contohnya. Meskipun penggunaan batu bara sebagai sumber energi untuk pembangkitan listrik dianggap masih murah, pembangunan fasilitas pembangkit dalam jumlah yang sangat berlebihan akan sangat mengganggu lingkungan kita. Apalagi mengingat isu global warming saat ini.

    Geothermal merupakan sumber energi anugrah Tuhan dan juga bencana (gunung berapi, letusan dan sebagainya) untuk tanah air kita. Adalah sepatutnya kita sebagai bangsa Indonesia mencintai sumber daya ini. Mari kita kaji, mari kita pelajari, dan mari kita gunakan sebaik-baiknya untuk kehidupan dan kesejateraan bangsa.

    Saya pribadi menyambut dengan senang serta bahagia dengan perhatian yang sangat baik atas pemanfaatan energi geothermal ini di Indonesia.
    Majulah terus Indonesiaku…!!!!!!!!

  2. Semoga bener pak…itu jadi angin segar…Dan semoga pemerintah juga mendukung. Kebetulan saya sedang menulis tentang peraturan geothermal di indonesia…

  3. Sdr. Rovicky,
    Saya tidak beri komentar , krn pemikiran ini bagus, Pertanyaan saya adalah kenapa Geothermal yang punya potensi besar dan juga sdh dilirik oleh UNOCL puluhan tahun silam tak mencuat apakah karena:
    1. Time utk pengembangan geothermalnya
    2. Biaya pengembangan dan technology?
    3. Kalau saya bisa meyakinkan investor utk mengembangkan dimana saya hars mencari informasi biaya drilling, plant etc.

    Thanks, “BRIGHT MAN”

  4. Era baru Geothermal Energy telah tiba!!!
    Gantikan fossil fuel yg merusak bumi dengan geothermal energy yg ramah lingkungan!!!!!
    ‘Clean Energy For A Better Future’

    –Geothermal engineering UPN Jogja—-

  5. bonjour messieurs..
    salam kenal.

    kayaknya steam memang tidak bisa diexport, tapi HC (oil/gas) yang disubstitusi bisa diexport untuk jadi uang pembayar hutang…
    mungkin ini yang perlu dilihat lagi oleh indonesia. ‘swap domino effect’nya lumayan signifikan…

    mas rovicky, svp continuer votre bonnes idees…

    daya imajinasi yang baguslah yang telah membuat dunia menemukan hal-hal baru…

    salam.

  6. Mas Rovicky : Hebat pikiran Lateralnya ( berpikir menyampingnya kayak edward de bono ). Ingat Basuki arif ( TG/ 84 UGM ) dulu S-2 Geothermalnya di Australia kah ? terus Heru Mandiri/ 83, Susidarto 83, Ratiman ( Raja Timbul Manurung , 81 – 82 ? ) tahu email mereka Mas ?,

    Salam dari Bontang yang nggak jadi ke Malaysia

Leave a Reply