Bangga tapi jangan sombong – Runtuhnya Bangsa Maya

3

Beberapa teman protes karena tulisan “Minder tanda tak mampu“. Ya tulisan itu seolah menghakimi sesuatu yg belum dijelaskan oleh Pak Hestu Bagyo tentang pernyataannya bahwa Pertamina tidak mampu mengelola Blok Cepu karena belum pengalaman. Dari sisi pengalaman mungkin benar, tapi kapan Pertamina akan berpengalaman ? Ya kalau ahirnya mengerjakannnya sendiri. Belajar daripengalama yang terbaik tentunya mengerjakan sendiri, walaopun dapat juga belajar dari pengalaman orang lain. Jadi yang saya tekankan adalah harus MAU dulu. Kemauan jelas harus ditunjukkan dengan rasa percaya diri bahwa dirinya mampu melakukan.

My notes : Mau – Mampu … Wah ini mana yg duluan ? dua-duanya seperti endog sama telur ….. eh, seperti ayam sama pitik … Duh susah kan mikirnya … šŸ™‚

Sebenernya kalau kita mau. maka kemampuan akan diperoleh, mau berusaha, mau mencoba, mau melakukannya, mau belajar … mau … mau ….
Disitulah semua awal kemampuan … eh jadi harus mau dulu donk !
Kalau ngga mau gimana saya bisa tahu kalau kamu mampu ?

Ketika berani menyatakan mau seseorang pasti memiliki rasa percaya diri. Dan di dalam rasa percaya tentunya tidak akan lepas dari rasa bangga (pride). Rasa bangga ini bener-bener sangat diperlukan. Dan itulah sebabnya saya menuliskan mengapa rasa kebanggaan harus ditumbuhkan dahulu. Karena ternyata rasa bangga ini dapat menjadi motivasi utama ketika menghadapi kepunahan sebuah bangsa.

Hah ! Emangnya kita akan punah ?. Tentusaja tidak, kalau kita mau belajar dari kepunahan bangsa-bangsa di dunia. Dalam tulisan sebelumnya tentang Hilangnya Peradaban dituliskan bahwa bencana alam dapat mengakibatkan hilangnya peradaban. Namun bencana itu adalah faktor diluar kontriol manusia. Nah bagaimana dengan internal faktor ?

Chaac, the god of Rain and thunderPenelitian seorang saintis Thuman and Bennet menemukan beberapa penyebab punahnya atau berakhirnya koloni atau beberapa bangsa yang pernah ada di dunia ini, termasuk didalamnya Bangsa Maya. Penyebab kepunahan itu biasanya berhubungan dengan adanya bencana alam ataupun peperangan yang mengakibatkan :
1. Langkanya kebutuhan dasar biologis utuk makan, minum, papan, dan kesehatan;
2. Hilangnya fasilitas-fasilitas industri produksi …. pabrik, aturan perburuhan dan kurangnya lapangan kerja, serta terhambatnya perdagangan;
3. Terbatasnya fasilitas untuk mengembangkan diri, termasuk didalamnya fasilitas melahirkan, usia perkawinan dam aturan jumlah anak;
4. Kurangnya pendidikan, termasuk didalamnya kurangnya penyampaian nilai-nilai budaya sehingga si anggota koloni dapat membrikan pengetahuannya ke generasi penerusnya;
5. Hilangnya kepercayaan diri, semangat dan motivasi.

Dari kelima penyebab diatas ternyata kebutuhan biologis menempati urutan terkecil, justru penyebab terakhirlah yang paling banyak berperan …… ya … hilangnya kepercayaan diri, ….. termasuk semangat hidup, ……. serta hilangnya motivasi diantara anggota koloni tersebut. …..

šŸ˜€ ” Wah aku makin tertarik saja membaca buku tentang kepunahan ini.”

Hasil penelitian arkeologi menemukan sisa-sisa bangsa maya ini telah kehilangan semangat hidupnya.

Hilangnya kepercayaan diri …… Loyonya semangat hidup …. Melemahnya motivasi ….. ya kita mestinya tahu sekarang. Hanya dengan kepercayaan diri, motivasi dan semangat hidup keempat penyebab kepunahan sebuah bangsa bisa dihindarkan.

The ruins of Palenque.Makanan dapat dicari kalau ada motivasi, …..
Pekerjaan dapat diciptakan seandainya ada semangat, …..
Proses pendidikan dapat diteruskan dengan adanya kepercayaan diri
Keterpurukan ekonomi bisa diatasi bila ada kepercayaan diri pada pelaku-pelakunya.
Pabrik bisa berproduksi kalau pegawainya tetap semangat bekerja.
Indek saham bisa membaik jika pelakunya tetap bergairah.

Peperangan paling besar adalah melawan diri sendiri, motivasi tidak bisa diberikan siapapun. Tetapi … motivasi, semangat dan kepercayaan diri harus dicari oleh diri kita sendiri …. karena ini semua ada dalam diri kita…… hanya diri sendiri yang bisa memunculkan motivasi ….. hanya kita yang mampu menggugah kepercayaan diri ini …… namun banyak tantangan dari luar dan bukan dari dalam diri …. ya dari sekitar kita ini. Kisah sang pilot yang percaya diri telah mendaratkan dengan selamat pesawatnya yang kehilangan baling-baling mengingatkan akan pentingnya kepercayaan diri serta usaha.

Kita semua tahu dan sadar ……. Saat ini Indonesia sedang mengalami keterpurukan ekonomi ….. saat ini kita mengalami krisis kepercayaan diri …… saat ini kita sedang mengalami perubahan ….. mengalami pergeseran nilai-nilai kebenaran sosial …. Namun jangan sampai hilang motivasi hanya karena berita buruk yang diedarkan di hampir semua media . Jangan hilang semangat hanya karena ramalan serta issue-issue menyesatkan.

Naah, anda bisa menilainya sendiri .. kalo ada politisi, ekonom, industriawan atau bahkan teman sebelah yang menyatakan bahwa kita sedang menghunjam kebawah . Kita tahu . Sebenarnya dialah yang sedang menghunjamkan diri. Dialah yang berusaha mempengaruhi kita mengikuti iramanya …. Anda mau ikutan dia yg menyatakan ketidak mampuan Bangsa Indonesia, yang hanya bisa protes semua karena pemerintahnya, yang hanya mengeluh karena rakyatnya sulit makan ? .
Atau anda mau ikutan sang pilot yang percaya diri dan berusaha mendaratkan pesawat berbaling-baling satu dengan selamat ?

Ketika anda harus berbicara kebenaran (soal hal buruk sekalipun), selalu saja ada harus sadar akan konsekuensi serta dampak dari apa yang dibicarakan. Dampak dari ucapan buruk maupun sangat mungkin mempengaruhi yg mendengarkan motivasi, baik yg positip maupun negatip.

Stay on positiveĀ  – hef e nais dei

Tulisan yang berhubungan :

3 COMMENTS

  1. Klau aq sick milih ikut ma pilot dari pada hidup dalam unek-unek tak jelas.
    Mka dari itu kita bngkitkan smua yang kita mampu tuk hal yg positif

  2. Saya baru saja diberitahu temen tentang Petronas, bahwa produksi petronas carigali sebesar 300 000BOPD di dalam negeri Malaysia sedangkan dari luar negeri hampir mencapai sejuta barel per day. Carigali ini mirip seperti Pertmaina Upstream.

  3. mas, saya melihat kondisi sekarang masih ada 3 kelompok kayak gini lho..

    1. yang mampu tidak mau (lha wong bayarannya sithik), milih jadi expat
    2. yang mau tidak mampu (karena tidak ‘laku’, dan pilihannya hanya itu)
    3. yang mau dan mampu, tidak mendapatkan support, akhirnya gabung pada kelompok 1.

    kalo mau dikonversi ke tahun, dunia migas indonesia dengan malaysia kalah berapa tahun seeh…

    maaf jika kalimatnya menyakitkan.

    salam.

Leave a Reply