Melawan kodrat dan hukum alam !

2

Seorang teman mengirim imil tentang DropOut (DO di ITB yang ternyata ada hubungan antara duwik (kekayaan) dengan kemampuan seseorang :

On 3/3/06, ismail wrote:
> Tahun ini ITB mendrop out 298 mahasiswanya karena tidak mencapai nilai
> minimalnya ( biasanya setelah 2 tahun kuliah). dan ternyata yg didrop ini
> adalah mahasiswa yang disaring lewat jalur SPMB ( tes secara Nasional ),
> sedangkan yang disaring lewat jalur kusus ( dg tes di ITB langsung) tidak
> ada yg dikeluarakan , bahkan cenderung lebih baik , demikian kata Pak
> Rektornya.
> Padahal selama ini ada kesan yg diterima di jalur kusus itu “modal otaknya
> cetek” dan seolah olah yg dilewat SPMB lebih berbobot.
>
> ISM

Kalau boleh diambil benang merah maka asumsiku mudah saja :”yg kaya akan masuk dengan test langsung dan yg miskin akan mencoba masuk dengan test SPMB”, kan biaya test langsung jelas lebih muahal. Nah kalau yg SPMB lebih banyak yg DO artine apa ? Berarti yg miskin “lebih mungkin” kurang pinter dibanding yang kaya. Benar ngga ?

Lah temenku banyak yg mencak2 ndak percaya lah wong aku ndak gitu kok.
Coba baca nih :

On 3/6/06, Abdullatif Setyadi wrote:
> Justru kami tidak setuju dengan pengkaitan antara otak
> dengan kaya – miskin…

Aku sekedar menjawab dengan cerita semoga berguna buat semua

Knapa ga stuju Kak La Tif ?
Mau coba bertaruh melihat data statistiknya ?

Terus terang aku masih terobsesi dengan statistik yg dibuat pak Djoko Wintolo (Dosen UGM) tahun 80-an, yg menunjukkan korelasi antara IP (Index prestasi) dan penghasilan/pendidikan orang tua. (mungkin Pak Djoko malah sudah lupa dengan statistik yg mengobsesi saya ini).

Dan kau tahu ndak apa obsesiku … ?
Aku ingin melawan data statistik itu !
Aku ingin merubah bahwa data statistik itu salah !
Ya jelas ndak adil lah masak anak wong mlarat tetep mlarat, sing sugit yo sugih terus ?

Yaitu dengan menunjukkan bahwa statistik itu tidak betul …dengan cara … ya itu usaha keras, belajar terus, ikut ini itu, menyibukkan diri jadi asisten, mencari beasiswa dsb. Lah piye wong bapakku juga bukan sarjana cuman guru, ibuku guru TK, bapakku guru SMP. Akupun pernah diajak bapak ke salah satu Pak Dhe-ku untk meminjam uang buat bayar spp semesteran juga. Jadi aku jelas bukan keturunan wong sugih.

Namun usahaku merubah data statistik itu ternyata banyak “sia-sia”nya …statistik itu sudah menjadi hukum alam (natural phenomena). Menurut statistik itu: anaknya dosen (anak sarjana) lebih banyak yg pinter (IP tinggi) ketimbang anak guru TK (bukan sarjana). Aku kan trus berfikir njujug saja … weeee lah anaknya tukang becak paling banter jadi tukang bajay.

Aku pun tak kuasa menahan hukum alam tentunya.
Walopun akau akhirnya lulus ke dua, dengan IP lebih bagus dibanding temen yg lain dan aku dapet beasiswa …. Dan aku diterima di sebuah perusahaan perminyakan, dimana aku satu-satunya alumni Geologi UGM yang diterima bekerja di perminyakan utk angkatan tahun itu. Tapi apa yg kuperoleh dari data statistik itu kini ? Aku ternyata hanya sebagai “anomali” dari data statistik itu … Aku ga mampu merubah “modus-mean-median” dari sebaran data statistik (kenyataan) ini.

Moral of the story :
Manusia itu akan selalu berusaha melawan kodrat alam. Banyak yg gagal ada yg sukses … Namun hukum alam ya tetap saja akan begitu jalannya. Lantas bagaimana dengan manusia yg suka melawan alam ini ? … Kalau manusia hanya bisa menerima hukum alam ini apa adanya, pun ini tidak berguna sebagai manusia sejati, ya menjadi manusia hanyalah menjadi kesia-siaan saja kalau menerima dunia ini apaadanya tanpa usaha. Katanya manusia khalifah di bumi, harus bisa menjadi memimpin. Yah, paling tidak memimpin diri sendiri. Berusaha merubah kodrat alam sepertinya juga sama “sia-sia”-nya … yang mampu kita lakukan hanyalah merubah diri sendiri.

Alhamdulillah …
itu saja …

strange … yet still unknown phenomena

2 COMMENTS

  1. Assalamu’alaium
    mohon maaf !!!
    Mohon dijelaskan sedikit gambaran mengenai pembagian hasil migas di Malaysia dengan wilaya dimana ekslorasi dilakukan,
    ada ngga dalam setiap kontrak yg dilakukan melibatkan daerah/wilayah dimana operasi migas dilakukan?

    Trimakasih

Leave a Reply