Bukan saatnya menunggu prediksi gempa !!

0

Pada Hari Minggu 10 April 2005 Pukul 5:29:13 PM Telah terjadi gempa kuat dengan kekuatan 6.8 SR dengank edalaman 5 Km (telah dikoreksi menjadi kedlm 30 Km,di segmen Mentawai. Lokasi gempa :
115 km (70 miles) SW of Padang, Sumatra, Indonesia
315 km (195 miles) SW of Pekanbaru, Sumatra, Indonesia
575 km (360 miles) SSW of KUALA LUMPUR, Malaysia
945 km (580 miles) WNW of JAKARTA, Java, Indonesia

gempa susulan :
MAG DATE UTC-TIME LAT LON DEPTH region
y/m/d h:m:s deg deg km

5.9 2005/04/10 11:55:31 -1.730 99.658 30.0
5.5 2005/04/10 11:45:03 -1.641 99.523 30.0
6.3 2005/04/10 11:14:20 -1.702 99.722 30.0
5.8 2005/04/10 10:45:50 -1.572 99.574 30.0
6.8 2005/04/10 10:29:13 -1.618 99.563 30.0
(waktu dalam UTC) utk WIB ditambah 7 jam.)

Gempa-gempa yg berurutan ini sejak dari Gempa Aceh (26 Desember 2004), kemudian Gempa Nias (28 Maret 2005) serta diikuti dengan Gempa Bengkulu (6 April 2005) dan hari ini Minggu 10 April 2005 di Mentawai dengan kekuatan 6.8SR kedalaman 5 Km. Semua rentetan ini merupakan sebuah rangkai gempa dalam satu sistem. Sepertinya bukan lagi saatnya menunggu-nunggu kapan gempa itu akan berlangsung lagi, bukan saatnya
menuntut para ahli meramal lagi, dan sudah bukan saatnya hanya membicarakan early warning dan sistem peringatan dini. Rentetan inilah yg dimaksudkan para ahli geologi-geofisika itu.

Tiga-empat seri gempa berurutan itu sudah jelas merupakan serangkaian kegiatan alam yg perlu kita hadapi secara serius. Kegiatan alam ini perlu kita hadapi dengan cermat. Bukan lagi dengan menyatakan
kekurangan metode prediksi, bukan lagi dengan saling menuding siapa yang harus bertanggung jawab penyelamatan. Namun saatnya semua komponen bangsa bahu membahu mempersiapakan hidup di alam yg sangat unik seperti Indonesia.

Alam sudah membunyikan alarm “kulonuwun”, alam sudah membagi sirine “punten”. Nah saatnya kita menjawab “sapaan” alam ini. Saatnya ‘memberikan jalan’ kepada alam untuk melakukan kegiatan naturalnya.
Jangan lagi menunggu untuk munculnya “early warning”. Namun saatnya buat banga ini untuk sadar akan kondisi alamnya yg rawan bencana, bukan sekedar “ratna mutu manikam” dengan “kolam susu”nya.

Pemerintah sudah harus dapat memberikan langkah kongkrit dengan “political will”-nya menghadapi gejala-gejala alam ini.

Tunggu apalagi pak SBY ?
Political will anda ditunggu tentang perlunya kesadaran pemerintah dengan kondisi alam Indonesia yg berada diatas “ring of fire”.

Ir Rovicky Dwi Putrohari MSc
Anggota IAGI dan HAGI

Education can’t stop natural disasters from occurring,
but it can help people prepare for the possibilities —

 

Leave a Reply